Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya industrialisasi di Kota Cilegon yang berpotensi menggeser eksistensi budaya lokal dan melemahkan identitas masyarakat. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan pelestarian budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kebijakan Pemerintah Kota Cilegon melalui penyelenggaraan Budaye Cilegon Fest & International Folk Arts (BCF-IFA) 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemerintah daerah, pelaku budaya, dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan festival. Data kemudian dianalisis menggunakan model evaluasi kebijakan William N. Dunn melalui enam indikator, yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa festival ini meningkatkan partisipasi pelaku seni lokal dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya. Selain itu, festival mendorong aktivitas ekonomi kreatif, khususnya pada sektor UMKM dan seni pertunjukan. Kebijakan ini juga dinilai responsif terhadap kebutuhan masyarakat, meskipun masih terdapat kendala pada aspek pendanaan dan koordinasi antar lembaga. Penelitian ini berkontribusi dalam kajian kebijakan budaya dengan menunjukkan bahwa festival budaya dapat menjadi instrumen strategis dalam pelestarian budaya di kota industri. Implikasinya, diperlukan penguatan kebijakan yang berkelanjutan, terutama dalam aspek pendanaan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.