Hipertensi merupakan penyakit degeneratif dengan prevalensi tinggi pada lansia dan berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikontrol secara optimal. Meskipun pedoman terapi antihipertensi telah tersedia, data mengenai pola penggunaan obat antihipertensi pada lansia di fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya di Kabupaten Cirebon, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan obat antihipertensi pada pasien lansia di Puskesmas Kedawung periode Januari–Juni 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis pasien, dengan teknik purposive sampling dan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh 72 pasien lansia (≥60 tahun). Responden terdiri dari 42 perempuan (58,33%) dan 30 laki-laki (41,67%), dengan mayoritas berusia 60–65 tahun (62,5%). Hasil menunjukkan bahwa pola terapi didominasi oleh monoterapi (90,32%), sedangkan politerapi sebesar 9,68%. Amlodipin (CCB) merupakan obat yang paling banyak diresepkan (82%), baik sebagai terapi tunggal maupun dalam kombinasi, dengan kombinasi terbanyak Amlodipin dan Captopril (8,3%). Dominasi monoterapi menunjukkan kecenderungan penggunaan terapi awal yang sesuai dengan praktik di layanan primer, namun juga dapat mencerminkan pertimbangan klinis dan ketersediaan obat. Disimpulkan bahwa Amlodipin menjadi pilihan utama terapi antihipertensi pada lansia di Puskesmas Kedawung. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan gambaran praktik farmasi klinik di fasilitas kesehatan primer serta dapat menjadi dasar evaluasi rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada populasi lansia.