Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran Tari Wor dalam Upacara Adat Suku Biak Sevlyn Cintya Eurine Rantung; Darmawan Edi Winoto; Aldegonda E. Pelealu
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2201

Abstract

Tari Wor merupakan salah satu warisan budaya sakral masyarakat suku Biak yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara adat. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ritual yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan Tari Wor dalam upacara adat suku Biak serta mengkaji peran dan makna simbolis yang terkandung dalam setiap gerakan tarinya. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku budaya, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Wor dilaksanakan secara sakral dan terstruktur, melibatkan penggunaan bahasa dan dialek Biak, nyanyian adat, kostum tradisional, serta gerakan tari yang terinspirasi dari alam, khususnya laut sebagai sumber kehidupan masyarakat Biak. Setiap gerakan Tari Wor mengandung makna simbolis yang mencerminkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Manggundi), leluhur, sesama manusia, dan lingkungan alam. Selain itu, Tari Wor berperan sebagai sarana pewarisan nilai budaya, identitas sosial, serta penguatan solidaritas masyarakat. Dengan demikian, Tari Wor tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan identitas masyarakat suku Biak di tengah dinamika perubahan sosial.
Sinamot : Adat Perkawinan Suku Batak Toba di Perantauan (Manado) Devi Sagala; Max L Tamon, M. Hum; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2203

Abstract

Tradisi sinamot merupakan salah satu unsur penting dalam perkawinan adat Batak Toba yang diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol penghormatan kepada pihak keluarga perempuan, pengikat kekerabatan, serta wujud tanggung jawab calon mempelai laki-laki terhadap kehidupan rumah tangga. Penelitian ini membahas keberlangsungan serta adaptasi tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba yang melangsungkan perkawinan di tanah perantauan, khususnya di Kota Manado, Sulawesi Utara. Dalam konteks perantauan, pelaksanaan sinamot tidak sepenuhnya identik dengan praktik di bona pasogit (tanah asal) karena dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan sosial, interaksi budaya lokal, serta perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian kualitatif yang Dimana peneliti melakukan wanwacara dengan beberapa tokoh Masyarakat dan mengolah data hasil wawancara tersebut, meskipun nilai dasar sinamot sebagai simbol penghargaan dan pengikat kekerabatan tetap dipertahankan, bentuk maupun maknanya mengalami penyesuaian. Besaran sinamot cenderung disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, sementara praktik tambahan seperti tradisi todoan di Tondano Selatan menunjukkan adanya transformasi budaya yang khas di daerah rantau. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya pergeseran makna sinamot meliputi modernisasi, perbedaan pandangan agama, tingkat pendidikan, status sosial, serta kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan demikian, tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba di Manado memperlihatkan sifat budaya yang dinamis: tetap lestari dalam esensi adatnya, namun bertransformasi agar relevan dengan kehidupan masyarakat multikultural dan modern.
Karema dan Kepemimpinannya di Minahasa (Sebuah Tinjauan Historisisme) Sania Robot; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2204

Abstract

Tradisi lisan orang Minahasa yang sampai saat masih dituturkan adalah Karema. Karema merupakan leluhur orang Minahasa yang peran dan eksistensinya sangatlah menentukan garis peradaban bagi generasi mereka. Mitologi orang Minahasa memposisikan Karema sebagai orang pertama didunia, dia juga memiliki tugas sebagai imam perempuan atau walian. Ketokohan Karema berkaitan dengan peran dan fungsinya pada awal peradaban Minahasa menjadi objek penelitian yang diangkat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu berupa gagasan atau ide yang dituangkan dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang dihasilkan dari objek penelitian serta berkaitan dengan kejadian yang melingkupi sebuah objek penelitian. Penelitian ini mendeskripsikan hasil analisis yang diperoleh dari informan dan dari dokumen-dokumen yang relevan dan menunjang penelitian ini. Selanjutnya hasil penelitian dikaji berdasarkan pendekatan historisisme. Hasil analisis dari penelitian ini mengungkapkan unsur kesejarahan dari peran Karema sebagai seorang pemimpin perempuan dalam kepercayaan Minahasa dan menjadikannya sebagai prototipe bagi generasi setelahnya. Karema dalam dunia kontemporer telah menjadi representasi perempuan Minahasa dalam karakter pemimpin-pemimpin yang tampil dengan gaya kepemimpinan yang mumpuni. Karema dijadikan sebagai tokoh sejarah dan budaya yang menginspirasi tidak hanya dalam konteks kesejarahan orang Minahasa tetapi juga dalam konteks budaya dan pendidikan.
Tradisi Padungku Masyarakat Suku Pamona di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Agnes Agnita Lukalemba; Darmawan Edi Winoto; Almen S Ramaino
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan tradisi Padungku pada masyarakat suku Pamona di Desa Toinasa, Kecamatan Pamona-Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Padungku merupakan salah satu warisan budaya turun-temurun yang dilaksanakan sebagai ritual pengucapan syukur setelah masa panen padi selesai. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang pencipta tetapi juga sebagai sarana mempererat solidaritas sosial, gotong royong, dan identitas sosial masyarakat suku Pamona. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk memahami secara mendalam nilai, norma, dan praktik budaya Padungku langsung dari perspektif masyarakat setempat. Selain itu, metode sejarah digunakan untuk merekonstruksi asal-usul, perkembangan, dan perubahan pelaksanaan tradisi ini dari masa ke masa, terutama pasca konflik sosial yang pernah melanda wilayah Kabupaten Poso. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Padungku tetap bertahan meski mengalami perubahan akibat modernisasi dan pengaruh agama. Pelaksanaan Padungku berperan penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal dan kearifan masyarakat Pamona dalam menghadapi dinamika sosial serta memberikan kontribusi pada pemulihan keharmonisan pasca konflik. Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai kerohanian, moral, dan kebersamaan yang kuat, yang menjadi fondasi sosial budaya masyarakat. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru dan kontribusi akademis serta praktis dalam pelestarian tradisi lokal sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.
Human Trafficking : Lingkar Kemiskinan pada Perempuan dan Anak di Manado Anggelina Kepadamu Pinamangun; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2220

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengapa perempuan dan anak menjadi sasaran utama human trafficking di Manado serta faktor penyebab dan dampaknya, akibat lingkar kemiskinan struktural. Tujuan utamanya adalah menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang menyebabkan kerentanan mereka terhadap eksploitasi. Sasaran penelitian mencakup tinjauan historis-multidisipliner untuk memahami dinamika sejak era kolonial hingga modern, guna merekomendasikan strategi pencegahan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian menerapkan metode historis berdasarkan langkah Gottschalk, meliputi heuristik untuk pencarian sumber, kritik sejarah internal-eksternal guna verifikasi keaslian, interpretasi multidisipliner dari perspektif sosiologi, ekonomi, dan gender, serta historiografi untuk menyusun narasi koheren. Data dikumpul melalui library research dari literatur, laporan pemerintah, dan dokumen relevan, dianalisis secara sistematis untuk menghubungkan konteks historis dengan isu kontemporer.Analisis mengungkap bahwa human trafficking di Manado berakar dari praktik kolonial seperti kerja rodi dan jugun ianfu kemudian menjadi bentuk modern melalui perekrutan digital, didorong kemiskinan struktural, posisi geografis strategis (Bandara Sam Ratulangi dan Pelabuhan Bitung),serta budaya merantau Minahasa yang dieksploitasi pelaku. Perempuan dan anak paling rentan, mengalami dampak berupa trauma fisik-psikologis, hilang hak pendidikan, stigma sosial,dan siklus kemiskinan yang berkelanjutan.Temuan ini menegaskan bahwa human trafficking di Manado adalah fenomena interdisipliner yang memperburuk ketidakadilan gender dan ekonomi, memerlukan pendekatan holistik untuk pemutusan siklus. Dengan mengintegrasikan pelajaran historis, penelitian merekomendasikan penguatan pengawasan perbatasan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan edukasi anti-trafficking berbasis komunitas, guna melindungi hak asasi manusia dan membangun masyarakat Manado yang lebih adil serta berkelanjutan.
Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat di Teluk Amurang Injilia Klarisa Kawet; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan sumber daya pesisir terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di Teluk Amurang, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dinamika perekonomian masyarakat pesisir. Wilayah pesisir Teluk Amurang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti perikanan tangkap, budidaya laut, serta sumber daya non-hayati yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data yang meliputi wawancara mendalam dengan nelayan, pelaku usaha pengolahan hasil laut, dan tokoh masyarakat, serta observasi langsung di lapangan dan studi dokumentasi terhadap data instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya pesisir, khususnya melalui kegiatan perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, dan perdagangan hasil perikanan, memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut menjadi sumber utama pendapatan dan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk pesisir. Namun demikian, keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan teknologi penangkapan dan pengolahan, akses yang minim terhadap modal usaha, kurangnya infrastruktur pendukung, serta menurunnya kualitas lingkungan akibat eksploitasi berlebihan dan pencemaran. Selain faktor-faktor ekonomi, aspek sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap pola pemanfaatan sumber daya pesisir. Nilai-nilai tradisional, sistem gotong royong, serta pola kepemimpinan lokal memainkan peran penting dalam mengatur distribusi hasil dan menjaga keseimbangan sosial di masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Teluk Amurang memerlukan strategi pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dukungan kebijakan pemerintah, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengoptimalkan potensi pesisir secara berkeadilan dan ramah lingkungan.
Dinamika Pelabuhan Tradisional dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Nelayan Tangkap di Belang (Minahasa Tenggara) Nurul Triyarti Halusa; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan Pelabuhan di Belang Minahasa Tenggara,  sebagai tempat mata pencaharian khususnya Masyarakat pesisir, dan bagaimana melihat dampak dari Pelabuhan atau dermaga Belang dari segi sosial dan budaya dengan menggunakan Metode Sejarah. Menurut Marc Bloch.  Empat tahap yang dilakukan dalam metode ini yakni: pertama: perumusan masalah penelitian, kedua: melakukan observasi historis melalui sumber sejarah, ketiga: melakukan analisis atau pengkajian data -dan keempat: melakukan pencarian (analisis) sebab-akibat dari masalah. Hasil penelitian mengambarkan keberadaan Pelabuhan Belang memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, terutama dalam peningkatan aktivitas ekonomi, perubahan pola mata pencaharian, serta terbentuknya interaksi sosial yang lebih intens dengan masyarakat luar daerah. Di sisi lain, perkembangan pelabuhan juga membawa perubahan sosial dan budaya, seperti pergeseran nilai-nilai tradisional, pola kerja, serta dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Dengan demikian, Pelabuhan Belang tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi dan distribusi hasil laut, tetapi juga sebagai faktor penting dalam proses perubahan sosial dan budaya masyarakat pesisir di Minahasa Tenggara.