Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengangguran Lulusan Sma, Smk, dan Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Era Bonus Demografi: Peluang yang Terabaikan Atau Beban Demografi Baru? Hari Ramdani; Rafa Annisa Fauziah; Siti Nur Aeni; Mirna Nur Alia Abdullah
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2412

Abstract

Indonesia saat ini tengah memasuki fase bonus demografi, yang ditandai dengan dominasi penduduk usia produktif dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, tingginya tingkat pengangguran di kalangan terdidik menjadi tantangan serius yang dapat mengubah peluang tersebut menjadi beban demografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena pengangguran terdidik di indonesia dalam konteks bonus demografi, serta menilai apakah kondisi ini merupakan peluang yang belum dimanfaatkan atau justru indikasi munculnya beban demografi baru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan pengumpulan data primer berupa kuesioner daring terhadap 15 responden, yang terdiri dari lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi yang sedang berada dalam masa transisi menuju dunia kerja. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi, faktor penyebab, dampak, serta persepsi terkait pengangguran terdidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengangguran terdidik didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan tinggi, dengan proporsi tertinggi berasal dari lulusan SMK. Faktor utama penyebabnya antara lain ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja (skills mismatch), kurikulum yang cenderung teoritis, kurangnya pengalaman magang, terbatasnya ketersediaan lapangan kerja formal, serta tingginya tingkat persaingan. Dampak yang muncul meliputi aspek ekonomi, seperti ketergantungan finansial dan rendahnya produktivitas, serta aspek sosial dan psikologis, termasuk stres dan menurunya kepercayaan diri. Persepsi responden terhadap fenomena ini beragam, sebagian memandangnya sebagai peluang yang belum dimaksimalkan, sebagian lain melihatnya sebagai potensi beban demografi baru, sementara sisanya menganggapnya sebagai kondisi yang bergantung pada kebijakan yang diterapkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengangguran terdidik merupakan masalah multidimensional yang membutuhkan penanganan komprehensif, seperti reformasi kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri, penguatan program magang berkualitas, peningkatan keterampilan melalui upskilling dan reskilling, serta penciptaan lapangan kerja berbasis inovasi dan ekonomi digital. Tanpa langkah strategis tersebut, bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban sosial ekonomi di masa depan.
Pengaruh Circle Pertemanan terhadap Efektivitas Kelompok Belajar Mahasiswa Siti Nur Aeni; Mirna Nur Alia Abdullah; Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura
Pahlawan Jurnal Pendidikan-Sosial-Budaya Vol. 21 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.695 KB) | DOI: 10.57216/pah.v21i2.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh circle pertemanan terhadap efektivitas kelompok belajar di kalangan mahasiswa. Circle pertemanan memiliki peran yang signifikan dalam membentuk dinamika kerja kelompok, baik dari segi pencapaian akademik, kenyamanan dalam berdiskusi, hingga dukungan sosial yang diberikan antar anggota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada beberapa mahasiswa dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok belajar yang terdiri dari circle pertemanan cenderung lebih efektif dalam menciptakan suasana yang suportif, komunikatif, dan penuh toleransi. Mahasiswa merasa lebih nyaman dalam menyampaikan ide dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Namun demikian, terdapat pula hambatan seperti tekanan teman sebaya dan konformitas sosial yang dapat mengganggu fokus belajar, misalnya kecenderungan untuk mengobrol atau menunda tugas. Dengan demikian, circle pertemanan dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat efektivitas kelompok belajar, tergantung pada dinamika hubungan dan kedewasaan masing-masing individu dalam kelompok. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa dan institusi pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran kolaboratif.