Wa Ode Salma
Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Halu Oleo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024: Hubungan Pola Makan, Sedentary Lifestyle dan Durasi Tidur Dengan Kejadian Gizi lebih Pada Remaja Di SMA Negeri 9 Kendari Tahun 2024 findri findriyanti; Wa Ode Salma; Devi Savitri Effendy; La Ode Muhamad Sety; Hariati Lestari; Rizki Eka Sakti Octaviani Kohali
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.194

Abstract

Latar belakang: Gizi lebih terjadi karena berbagai hal, tapi yang utama adalah ketidakseimbangan energi. Di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tahun 2023, jumlah remaja berusia 13-15 tahun yang mengalami overweight dan obesitas masing-masing adalah 9,0% dan 2,9%. Tujuan: penelitian ini ingin mencari tahu bagaimana pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur berhubungan dengan masalah gizi lebih pada remaja. Metode: penelitian ini menggunakan cara observasional analitik dengan desain cross sectional. Ada 278 responden yang menjadi sampel yang dipilih dengan teknik pemilihan acak sederhana. Untuk analisis datanya, digunakan uji Chi-square. Hasil: menunjukkan bahwa pola makan (nilai p = 0,003), gaya hidup tidak aktif (nilai p = 0,021), dan waktu tidur (nilai p = 0,026) semuanya lebih kecil dari nilai p = 0,05. Kesimpulan: ada hubungan antara pola makan, gaya hidup tidak aktif, dan waktu tidur dengan masalah gizi lebih pada remaja. Sebaiknya, remaja harus menjaga pola makan yang sehat dengan mengurangi makanan yang tinggi kalori, lebih aktif bergerak untuk mengurangi gaya hidup tidak aktif, dan memastikan waktu tidur yang cukup untuk mendukung kesehatan. Dengan menjalani kebiasaan sehat secara teratur, remaja bisa mencegah masalah gizi lebih dan mencapai pertumbuhan yang baik dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Kasus HIV/AIDS pada Kelompok Beresiko Lelaki Seks Lelaki di RSUD Kota Kendari Safrina; Wa Ode Salma; Adius Kusnan
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.269

Abstract

Latar Belakang: Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan populasi kunci yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Di Kota Kendari, khususnya di RSUD Kota Kendari, kasus HIV di kalangan LSL tinggi dan berfluktuasi. Faktor-faktor seperti perilaku seksual berisiko, rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, status gizi, dan stigma diduga berkontribusi terhadap tingginya prevalensi ini, tetapi belum diteliti secara komprehensif di wilayah tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya kasus HIV/AIDS pada kelompok berisiko LSL di RSUD Kota Kendari. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 75 kasus (LSL HIV-positif) dan 75 kontrol (LSL HIV-negatif) yang dipilih secara acak sistematis di RSUD Kota Kendari. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil: Analisis multivariat menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko (p=0,000), pengetahuan rendah tentang HIV/AIDS (p=0,001), akses layanan kesehatan yang terbatas (p=0,002), dan stigma (p=0,005) secara signifikan berpengaruh terhadap tingginya kasus HIV pada kelompok LSL. Namun, status gizi (p=0,250) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Di antara faktor-faktor tersebut, perilaku seksual berisiko merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi tingginya kasus HIV. Kesimpulan: Tingginya angka kasus HIV pada pria yang aktif secara seksual (LSL) di RSUD Kota Kendari sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko, rendahnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, dan stigma. Intervensi pencegahan dan pengobatan HIV pada LSL perlu berfokus pada edukasi tentang perilaku seksual yang aman, peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi, penyediaan layanan kesehatan yang ramah dan mudah diakses, serta pengurangan stigma dan diskriminasi di masyarakat dan fasilitas kesehatan