p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal SOSHUM
Eben Ezer Nainggolan
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA WORK LIFE BALANCE DAN TURNOVER INTENTION: PERAN WORK ENGAGEMENT SEBAGAI MEDIATOR PADA KARYAWAN DI SURABAYA Paramita Dwi Larasati; Etik darul Muslikah; Eben Ezer Nainggolan
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/grha8q66

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara work life balance dan turnover intention serta menganalisis peran mediasi work engagement pada karyawan aktif di sektor swasta di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 400 karyawan aktif yang telah bekerja minimal enam bulan berpartisipasi dalam penelitian ini dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Work Life Balance, Skala Work Engagement, dan Skala Turnover Intention, kemudian dianalisis menggunakan PROCESS Macro Hayes Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention (B = -0,1784; p < 0,001), serta berpengaruh positif dan signifikan terhadap work engagement (B = 0,8444; p < 0,001). Selanjutnya, work engagement berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention (B = -0,2124; p < 0,001). Analisis mediasi menunjukkan adanya pengaruh tidak langsung yang signifikan (indirect effect = -0,1794; 95% bootstrap confidence interval [-0,2079; -0,1479]), sehingga work engagement terbukti memediasi secara penuh hubungan antara work life balance dan turnover intention. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan work life balance dapat memperkuat work engagement, yang pada akhirnya menurunkan kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Hasil penelitian memberikan implikasi praktis bahwa organisasi perlu mengembangkan kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi guna meningkatkan keterikatan kerja serta mempertahankan karyawan.
HUBUNGAN SELF-CONTROL DAN KUALITAS HUBUNGAN SOSIAL PADA REMAJA DI SURABAYA: PENGUJIAN PERAN MEDIASI PHUBBING Galuh Dwi Parwati; Eben Ezer Nainggolan; Sayidah Aulia Ul Haque
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/1z5efq16

Abstract

Topik yang menarik dalam perkembangan remaja adalah kualitas hubungan sosial karena berpengaruh terhadap kesejahteraan psikososial, penyesuaian sosial, dan pembentukan hubungan interpersonal yang sehat. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam meningkatkan kualitas hubungan sosial adalah self-control. Di sisi lain, perilaku phubbing sebagai konsekuensi penggunaan smartphone yang berlebihan diduga menjadi mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut. Studi ini menyelidiki hubungan antara kualitas hubungan sosial dan self-control serta peran phubbing sebagai mediasi di kalangan remaja di Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 358 remaja berusia 15–19 tahun yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Brief Self-Control Scale (BSCS), Generic Scale of Phubbing (GSP), dan Quality of Relationships Inventory (QRI). Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Macro Hayes Model 4 dengan teknik bootstrapping sebanyak 5.000 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-control berhubungan positif secara signifikan dengan kualitas hubungan sosial (B = 0,294; p < 0,001) dan berhubungan negatif secara signifikan dengan phubbing (B = −0,657; p < 0,001). Namun, phubbing tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas hubungan sosial setelah self-control dikendalikan (B = −0,005; p = 0,918). Hubungan antara kualitas hubungan sosial dan self-control tidak dimediasi oleh phubbing, menurut pengujian efek tidak langsung (Effect = 0,0031; BootLLCI = −0,0549; BootULCI = 0,0632). Temuan ini menunjukkan bahwa daripada phubbing, self-control merupakan faktor psikologis yang lebih dominan dalam menjelaskan kualitas hubungan sosial remaja. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa upaya meningkatkan kualitas hubungan sosial remaja perlu lebih menekankan penguatan kemampuan self-control daripada hanya berfokus pada pengurangan perilaku phubbing.