p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal SOSHUM
Ika Wahidah
Program Magister Kajian Wanita, Universitas Brawijaya Malang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MUTILASI DALAM HUBUNGAN CINTA: REPRESENTASI KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM KASUS TIARA ANGELINA Ika Wahidah
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/hjpfeg55

Abstract

Kasus mutilasi Tiara Angelina oleh pasangannya menjadi representasi ekstrem dari fenomena Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dalam relasi intim (Intimate Partner Violence). Tragedi ini bukan hanya insiden kriminal, tetapi manifestasi brutal dari ketidakseimbangan kuasa struktural dan dinamika toxic relationship. Studi ini bertujuan menganalisis bagaimana KBG, dehumanisasi, dan implikasi sosial struktural terefleksi dalam kasus tersebut. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif dengan desain Studi Kasus Tunggal Instrumental. Data dikumpulkan melalui Analisis Isi Media dan Dokumen (berita, laporan kronologi, dan analisis ahli). Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, dengan fokus pada pengaitan temuan empiris dengan teori KBG, kekuasaan, dan dehumanisasi. Temuan Utama dari studi ini adalah akar struktural KBG dimana kekerasan ini berakar pada rasa kepemilikan mutlak (sense of entitlement) pelaku yang beroperasi dalam relasi yang beracun (toxic relationship). Pembunuhan dipicu oleh kegagalan pelaku untuk mempertahankan kontrol dan dominasi, yang merupakan produk dari struktur patriarki. Mutilasi sebagai Puncak Dehumanisasi merupakan tindakan mutilasi jasad korban (menjadi ratusan bagian) melampaui motif penghilangan bukti, berfungsi sebagai aksi simbolik dan wujud fisik dari dehumanisasi total. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku telah kehilangan nilai moral dan kemanusiaan korban (Anomi), menjadikannya pernyataan kekuasaan absolut terhadap subjek perempuan. Dari implikasi sosial kasus ini mengungkap adanya kecenderungan menyalahkan korban (victim blaming) di ruang publik yang mengaburkan akar KBG. Secara struktural, kasus ini menunjukkan urgensi perlindungan hukum dan intervensi dini yang lebih serius terhadap Kekerasan dalam Pacaran (KDP) sebagai krisis publik. Mutilasi dalam kasus Tiara Angelina adalah cerminan kegagalan sistematis untuk melindungi perempuan dari KBG ekstrem. Hal ini menuntut intervensi kebijakan yang lebih serius, penegakan hukum yang berperspektif gender, dan peningkatan literasi emosional untuk mencegah relasi cinta berubah menjadi arena kekerasan yang mematikan.
BARODAK: SEBUAH DIALEKTIKA FEMINISME DAN KONSERVATISME BUDAYA PEREMPUAN SUMBAWA Ika Wahidah
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/52j4zm96

Abstract

Penelitian ini mengkaji dialektika antara feminisme dan konservatisme budaya dalam tradisi pra-pernikahan Barodak pada masyarakat Sumbawa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini menganalisis Barodak sebagai sebuah arena di mana dua kekuatan yang kontradiktif ini berinteraksi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun ritual ini berakar pada nilai-nilai konservatif yang mengukuhkan peran gender tradisional , ia secara paradoks juga memperlihatkan adanya agensi dan otoritas perempuan. Peran sentral Inaq Odak dan partisipasi aktif ibu-ibu dalam memimpin ritual menunjukkan bahwa perempuan memegang posisi signifikan di dalam kerangka budaya patriarkal yang ada. Melalui analisis feminisme post-struktural dan posT kolonial, penelitian ini berargumen bahwa Barodak adalah sebuah sintesis yang mempertahankan tradisi sambil secara halus mengakomodasi pemberdayaan perempuan. Partisipasi perempuan dalam ritual ini dapat dilihat sebagai sebuah praktik performativitas gender yang menguatkan identitas budaya, serta sebagai upaya sadar untuk melestarikan jati diri dari pengaruh luar . Penelitian ini menyimpulkan bahwa agensi perempuan tidak selalu berbentuk penolakan radikal terhadap tradisi, melainkan dapat beroperasi melalui negosiasi strategis dan penguatan posisi di dalam kerangka budaya mereka sendiri.