Yusmita Pratiwi
Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DAMPAK MEDIA SOSIAL DALAM MEMBANGUN KESADARAN POLITIK DI KALANGAN MAHASISWA (STUDI KASUS PADA MAHASISWA PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANGKATAN 2022 UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR) Yusmita Pratiwi; Ibrahim Arifin
Pinisi Journal of Sociology Education Review Volume 6, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pjser.v6i2.84046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) bentuk partisipasi politik mahasiswa Pendidikan Sosiologi Angkatan 2022 Universitas Negeri Makassar di media sosial, dan (2) dampak media sosial terhadap kesadaran politik mahasiswa tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan jenis studi kasus (case study). Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang ditentukan melalui teknik purposive samplingĀ dengan kriteria mahasiswa aktif Pendidikan Sosiologi Angkatan 2022 yang merupakan pengguna aktif media sosial. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan member check. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Mahasiswa sangat bergantung pada platform visual seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, dan pola penggunaannya bersifat aktif sebagai prosumer, yaitu tidak hanya mengonsumsi tetapi juga memproduksi dan menyebarkan konten politik. (2) Media sosial membawa dampak positif berupa peningkatan melek politik dan keberanian berdiskusi di ruang publik digital, namun juga dampak negatif berupa information overload, Fear of Missing OutĀ (FOMO), dan risiko terpapar hoaks. Kesimpulannya, media sosial berhasil meningkatkan pengetahuan politik mahasiswa secara teoretis, namun keterlibatan mereka masih sebatas "aktivisme jempol" yang ramai di media sosial tetapi minim aksi nyata.