Penamaan gendhing Jawa tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas komposisi karawitan, tetapi juga merepresentasikan hubungan antara bahasa, pengalaman budaya, dan sistem pengetahuan masyarakat Jawa. Meskipun kajian mengenai penamaan telah banyak dilakukan pada berbagai objek linguistik, penelitian yang mengkaji makna leksikal dan makna kontekstual dalam penamaan gendhing Jawa masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kategori penamaan serta mengungkap makna leksikal dan makna kontekstual pada nama-nama gendhing Jawa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan objek penelitian berupa lima belas nama gendhing Jawa yang dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit. Data diperoleh melalui wawancara semiterstruktur dengan seorang akademisi yang juga aktif sebagai seniman dan pengrawit, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan enam kategori penamaan, yaitu berdasarkan karakter bunyi, tempat, tumbuhan, aktivitas, tokoh pewayangan, serta peristiwa atau keadaan tertentu. Analisis juga menunjukkan bahwa makna leksikal memberikan dasar pemaknaan terhadap nama gendhing, sedangkan makna kontekstual memperluas interpretasi melalui keterkaitannya dengan nilai budaya, fungsi pertunjukan, dan pengalaman kolektif masyarakat Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa penamaan gendhing merupakan representasi hubungan antara sistem kebahasaan dan budaya, sekaligus memperkaya kajian semantik mengenai pemaknaan dalam tradisi budaya Jawa.