Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Ritual Tolak Bala Pada Masyarakat di Desa Tepapan Kuala Kecamatan Galing Kabupaten Sambas Etriadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v3i4.1517

Abstract

Penelitian ini berisi tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi ritual tolak bala. Tujuan penelitian ini 1) untuk mengkaji pelaksanaan ritual tolak bala pada masyarakat Desa Tepapan Kuala 2) untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan Islam dalam ritual tolak bala pada masyarakat Desa Tempapan Kuala 3) untuk mendalami konsekuensi moral dan sosial dalam pelaksanaan ritual tolak bala pada masyarakat Desa Tepapan Kuala. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam dalam ritual tolak bala pada masyarakat di Desa Tempapan Kuala adalah nilai akidah, nilai ibadah, dan nilai akhlak dan nilai sosial. Nilai akidah yaittu keyakinan masyarakat dengan adanya ritual tolak bala dapat menolak musibah, bala bencana dan wabah penyakit. Nilai ibadah yaitu hampir semua rangkaian ritual tolak bala itu adalah ibadah seperti sholat maghrib dan isya berjamaah, sholat hajat, peembacaan ratibul haddad, dan pembacaan syair burdah. Nilai akhlak bahwa didalam pelaksanaan ritual tolak bala yang muda menghormati orang yang lebih tua serta adab membawa kitab shahih bukhari dan shahih muslim. Nilai sosial yaitu masyarakat lebih erat tali persaudaraannya, saling mendoakan, dan bersedekah. Berdasarkan hasil penelitian sesudah melakukan ritual tolak bala masyarakat memiliki perasaan lebih tenang dan nyaman, mereka tidak lagi kepikiran tentang wabah penyakit dan bencana alam, tetapi kalau memang akan terjadi disaat masyarakat telah melakukan tolak bala, mereka mengganggap nya sebagai teguran dariAllahSWT.
Pelatihan dan Pendampingan Model Pembelajaran Inovatif Abad 21 Bagi Guru Sekolah Dasar Etriadi
SAMBARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 3 (2025): September
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/sambarapkm.v3i3.1518

Abstract

Memasuki abad ke-21, perkembangan teknologi telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Kondisi ini menuntut guru sekolah dasar untuk memiliki kemampuan dalam mengimplementasikan pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada pengembangan keterampilan abad ke-21, khususnya critical thinking, creativity, communication, dan collaboration (4C). Namun, pada praktiknya masih banyak guru yang menerapkan pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru (teacher-centered learning), sehingga kurang mampu mengoptimalkan potensi peserta didik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar melalui pelatihan dan pendampingan dalam menerapkan model pembelajaran inovatif abad ke-21, khususnya model pembelajaran Mordiscvein. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap sosialisasi, pelatihan, praktik implementasi, serta pendampingan secara berkelanjutan. Model Mordiscvein dipilih karena dirancang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar dan berpotensi meningkatkan keterampilan 4C secara terintegrasi. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang serta mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning), sehingga berdampak pada peningkatan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah dasar.
Sosialisasi Pentingnya Sejarah Lokal Untuk Menumbuhkan Minat Sejarah di SMA 1 Galing Etriadi
SAMBARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2026): Mei
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/sambarapkm.v4i2.2457

Abstract

Pendidikan dan kearifan lokal era perspektif global adalah bagaimana peran seorang guru dalam membimbing peserta didik tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam masyarakat. Dalam pembelajaran di sekolah, khusunya pelajaran sejarah, sudah seharusnya di adakan pengenalan sejarah lokal di Kabupaten Sambas. Program kemitraan masyarakat internal pendidikan sejarah bertujuan melakukan sosialisasi pengenalan Sejarah Lokal dalam upaya menumbuhkan minat sejarah di SMA 1 Galing. Pentingnya sosialisasi pengenalan sejarah lokal yakni untuk menambah pengetahuan dan pengalaman baik belajar siswa maupun guru di SMA 1 Galing. Tim pengabdian memiliki kewajiban dalam memberikan sosialisasi dalam bidang kesejarahan sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat. Bidang sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu namun kemajuan iptek dapat dimanfaatkan sebagai sumber utama melalui elaborasi sejarah lokal yang ada disekitar masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memberikan kontribusi baik guru maupun siswa di SMA 1 Galing. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilakukan di SMA 1 Galing sebagai bentuk perhatian tim dalam bidang sejarah untuk tetap menjaga eksistensi sejarah lokal khususnya bagi generasi muda. Pengabdian ini menggunakan metode pelaksanaan berupa langkah-langkah yang akan dilakukan dalam memberikan pelatihan melalui tahapan persiapan materi, pelaksanaan kegiatan, serta tahapan evaluasi kegiatan.
Rekontrusi Budaya Betangas di Desa Tempapan Kuala Etriadi
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jipsi.v5i1.2458

Abstract

Kabupaten Sambas merupakan salah satu wilayah di Kalimantan Barat yang memiliki keragaman budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Tempapan Kuala adalah betangas, yaitu praktik penguapan tubuh menggunakan ramuan atau bahan-bahan tradisional yang umumnya dilakukan menjelang pernikahan maupun sebagai bagian dari perawatan dan kebersihan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan tradisi betangas, makna dan tujuan pelaksanaannya, serta upaya masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut di tengah perubahan sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat yang memahami dan masih melaksanakan tradisi betangas. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi betangas tidak hanya berfungsi sebagai praktik perawatan tubuh untuk mengurangi bau badan, membersihkan dan menjaga kesehatan kulit, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan kultural dalam kehidupan masyarakat Desa Tempapan Kuala. Pelaksanaan betangas menjelang pernikahan merepresentasikan kesiapan calon pengantin secara fisik sekaligus menjadi bagian dari pewarisan nilai dan identitas budaya masyarakat. Keberlangsungan tradisi ini didukung oleh proses pewarisan pengetahuan antargenerasi dan keterlibatan masyarakat dalam praktik budaya tersebut. Dengan demikian, betangas merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Sambas yang memiliki nilai kesehatan, sosial, dan kultural sehingga penting untuk terus didokumentasikan dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.