Sri Sumartiningsih
Department of Sports Science, Faculty of Sports Science, Universitas Negeri Semarang, Central Java, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Effectiveness of Sport Massage and Swedish Massage in Reducing Fatigue Levels Among Mountain Climbers Barokta Amiludin; Sri Sumartiningsih
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol. 15 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v15i1.26471

Abstract

Abstract. Mountain climbing is a physically demanding activity requiring high levels of strength and endurance. After climbing activities, climbers frequently experience physical fatigue caused by lactic acid accumulation and prolonged energy expenditure. Effective recovery strategies are necessary to restore physiological conditions and improve post-activity recovery. Sport massage and Swedish massage are widely used recovery methods; however, comparative evidence regarding effectiveness in reducing fatigue among mountain climbers remains limited. The purpose of this study was to examine the differences in effectiveness between sport massage and Swedish massage in reducing fatigue levels among mountain climbers. A pretest–posttest experimental design was employed involving 30 participants selected through random sampling. Participants were divided into two groups consisting of 15 individuals in the sport massage group and 15 individuals in the Swedish massage group. Data were analyzed using paired t-tests and independent t-tests. The findings demonstrated that both sport massage and Swedish massage produced significant positive effects on reducing physical fatigue. Comparative analysis showed no statistically significant difference between both methods. However, sport massage demonstrated a higher effectiveness percentage (45%) compared with Swedish massage (35%). The novelty of the study lies in providing comparative evidence regarding massage-based recovery interventions specifically among mountain climbers. The findings contribute practical implications for selecting effective recovery strategies following physically demanding outdoor activities. Abstract in Indonesia. Mendaki gunung merupakan aktivitas fisik berat yang membutuhkan kekuatan dan daya tahan tubuh yang tinggi. Setelah aktivitas pendakian, pendaki sering mengalami kelelahan fisik akibat akumulasi asam laktat dan pengeluaran energi yang tinggi. Strategi pemulihan yang efektif diperlukan untuk mengembalikan kondisi fisiologis tubuh dan mempercepat proses pemulihan pascaaktivitas. Sport massage dan Swedish massage merupakan metode pemulihan yang sering digunakan, namun penelitian komparatif mengenai efektivitas kedua metode pada pendaki gunung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas sport massage dan Swedish massage dalam menurunkan tingkat kelelahan pada pendaki gunung. Penelitian menggunakan desain eksperimen pretest–posttest dengan jumlah sampel 30 orang yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 15 orang kelompok sport massage dan 15 orang kelompok Swedish massage. Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sport massage dan Swedish massage memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap penurunan kelelahan fisik. Analisis komparatif menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara kedua metode. Namun demikian, sport massage menunjukkan tingkat efektivitas lebih tinggi sebesar 45% dibandingkan Swedish massage sebesar 35%. Kebaruan penelitian terletak pada bukti komparatif intervensi pemulihan berbasis pijat yang secara khusus diterapkan pada pendaki gunung. Temuan penelitian memberikan implikasi praktis dalam pemilihan strategi pemulihan setelah aktivitas fisik berat.
Validity and Reliability Evidence of the SportRec Track and Field Talent Test Battery for Individuals with Intellectual Disabilities Nagoor Meera Abdullah; Wahidah Tumijan; Zarizi Ab Rahman; Novri Gazali; Sri Sumartiningsih
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol. 15 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v15i1.31720

Abstract

Abstract. The present study evaluated the construct validity and reliability of the Track and Field SportRec Talent Test Battery (SRTTB) designed for individuals with intellectual disabilities. Talent identification plays an important role in optimizing athletic potential and supporting inclusive sports development. A total of 74 male students with intellectual disabilities aged 14–20 years from a special school in Klang participated in the study. Participants completed several physical performance tests, including the standing long jump, 30 m sprint, push-up, seated medicine ball throw, standing overhead medicine ball throw, standing backward overhead medicine ball throw, and 20 m intermittent fitness test. Data analysis was conducted using IBM SPSS version 30 to examine construct validity and test–retest reliability. Construct validity was assessed through convergent and discriminant validity analyses, while reliability was evaluated using the Intraclass Correlation Coefficient (ICC). The findings demonstrated excellent reliability for the standing long jump (ICC = 0.94), 30 m sprint (ICC = 0.89), push-up (ICC = 0.97), standing overhead medicine ball throw (ICC = 0.84), standing backward overhead medicine ball throw (ICC = 0.91), and VO₂max test (ICC = 0.99). The seated medicine ball throw showed moderate reliability (ICC = 0.70). Convergent validity analysis revealed strong correlations across all performance measures, ranging from 0.885 to 0.996. Discriminant validity analysis indicated low correlations between unrelated constructs, confirming that each test measured distinct physical performance components. The results support the SRTTB as a valid and reliable instrument for identifying athletic talent among individuals with intellectual disabilities. The findings provide practical implications for coaches, educators, and researchers in developing evidence-based training and talent identification programs. Abstract in Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi validitas konstruk dan reliabilitas Track and Field SportRec Talent Test Battery (SRTTB) yang dirancang bagi individu dengan disabilitas intelektual. Identifikasi bakat olahraga memiliki peran penting dalam mengoptimalkan potensi atlet serta mendukung pengembangan olahraga yang inklusif. Sebanyak 74 siswa laki-laki dengan disabilitas intelektual berusia 14–20 tahun dari sebuah sekolah di Klang berpartisipasi dalam penelitian. Partisipan mengikuti serangkaian tes performa fisik yang meliputi standing long jump, lari sprint 30 m, push-up, seated medicine ball throw, standing overhead medicine ball throw, standing backward overhead medicine ball throw, dan tes kebugaran intermiten 20 m. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS versi 30 untuk menguji validitas konstruk dan reliabilitas tes–ulang. Validitas konstruk dianalisis melalui validitas konvergen dan diskriminan, sedangkan reliabilitas dievaluasi menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Hasil penelitian menunjukkan reliabilitas sangat baik pada tes standing long jump (ICC = 0,94), sprint 30 m (ICC = 0,89), push-up (ICC = 0,97), standing overhead medicine ball throw (ICC = 0,84), standing backward overhead medicine ball throw (ICC = 0,91), dan tes VO₂max (ICC = 0,99). Tes seated medicine ball throw menunjukkan reliabilitas sedang (ICC = 0,70). Analisis validitas konvergen menunjukkan korelasi yang kuat pada seluruh ukuran performa fisik dengan rentang nilai 0,885–0,996. Analisis validitas diskriminan menunjukkan korelasi rendah pada konstruk yang tidak berkaitan sehingga setiap tes terbukti mengukur komponen performa fisik yang berbeda. Hasil penelitian mendukung SRTTB sebagai instrumen yang valid dan reliabel untuk identifikasi bakat atletik pada individu dengan disabilitas intelektual. Temuan penelitian memberikan implikasi praktis bagi pelatih, pendidik, dan peneliti dalam mengembangkan program pelatihan dan identifikasi bakat berbasis bukti.