Penelitian ini bertujuan menganalisis peran strategis kelompok tenun ikat skala besar dalam menjembatani kesenjangan kapasitas kelompok tenun ikat skala kecil dan menengah serta merumuskan model kolaborasi yang efektif dan berkelanjutan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi dengan melibatkan kelompok tenun ikat skala besar, kelompok kecil dan menengah, serta Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Sikka. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan kapasitas bersifat multidimensional, terutama pada sumber daya manusia dan keterampilan, akses pasar, digital marketing, kualitas dan standardisasi, pengembangan desain, produksi, serta manajemen usaha. Kelompok tenun ikat skala besar memiliki posisi strategis sebagai local capacity builder melalui transfer pengetahuan, mentoring, pendampingan desain, quality control, kolaborasi produksi, dan pembukaan akses pasar. Penelitian menghasilkan model kolaborasi antar-skala yang terdiri atas enam tahapan, yaitu pemetaan capacity gap; penetapan kelompok mitra dan mentor; transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas; praktik dan kolaborasi produksi; penguatan pemasaran dan akses pasar; serta monitoring, evaluasi, dan pengembangan berkelanjutan. Model ini menempatkan kelompok besar sebagai mentor, quality partner, penggerak inovasi, dan market bridge, dengan dukungan pemerintah dan perguruan tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa kapasitas internal ekosistem tenun ikat dapat dimobilisasi sebagai sumber daya pemberdayaan untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan industri tenun ikat Sikka