Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan orang tua pada pendidikan anak di Desa Enu. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik purposive sampling. Informan penelitian terdiri atas orang tua, tokoh masyarkat, dan pihak yang memahami kondisi pendidikan anak di Desa Enu. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Teori interaksionisme simbolik digunakan dalam penelitian ini, untuk menggali makna subjektif yang dibentuk oleh interaksi sosial, serta realitas yang dikonstruksikan oleh keluarga miskin terkait pendidikan anak-anak mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak orang tua yang tidak mengutamakan pendidikan dan lebih memilih anak-anak mereka untuk bekerja di kebun dari pada sekolah. Pendidikan dalam konteks keluarga miskin lebih dimaknai sebagai beban ekonomi ketimbang sebagai investasi sosial. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah dan orang tua yang tidak pernah mengeyam pendidikan formal cenderung tidak menyadari pentingnya pendidikan dalam meningkatan kesejateraan masa depan anak mereka. Mereka lebih melihat keberhasilan dalam bentuk kerja keras di kebun daripada melalui pendidikan yang hasilnya baru dilihat dalam jangka panjang. Temuan ini juga menunjukkan adanya pewarisan nilai dan persepsi negatif terhadap pendidikan formal yang dibentuk dari pengalaman hidup orang tua yang sebelumnya juga tidak menyelesaikan sekolah. Fenomena ini mencerminkan proses reproduksi sosial yang memperkuat ketimpangan pendidikan di pedesaan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perlunya untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat mengenai pentingnya Pendidikan melalui kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan Masyarakat dalam mendukung keberlanjutan pendidikan anak.