Penelitian ini mengkaji dinamika konflik laten dan proses pembentukan solidaritas dalam praktik filantropi lintas iman Komunitas Sega Mubeng yang beroperasi di Pastoran Gereja Katolik Padua, Kota Baru, Yogyakarta. Inisiatif berbagi makanan yang awalnya dimaksudkan sebagai respon terhadap kerentanan sosial masyarakat miskin kota justru memunculkan kecurigaan sebagian warga terhadap kemungkinan adanya kristenisasi. Situasi ini menunjukkan adanya ketegangan simbolik dan relasi kuasa yang tidak seimbang antara pihak gereja sebagai pemilik sumber daya dan masyarakat penerima bantuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana konflik laten tersebut muncul, dinegosiasikan, dan pada akhirnya bertransformasi menjadi bentuk solidaritas reflektif melalui kerangka teori konflik Ralf Dahrendorf. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, bertujuan memahami secara mendalam relasi kuasa, ketimpangan sosial, dan transformasi solidaritas di dalam komunitas tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi dan studi pustaka terhadap praktik kegiatan, interaksi volunteer, serta respon masyarakat penerima bantuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik laten berupa kecurigaan terhadap dominasi simbolik agama berakar pada ketimpangan otoritas antara pemberi dan penerima bantuan. Namun, melalui interaksi yang konsisten, terbuka, dan non-dogmatis, prasangka tersebut berangsur hilang dan bergeser menjadi kepercayaan. Transformasi ini memperlihatkan bahwa konflik dapat berfungsi sebagai mekanisme perubahan sosial positif yang memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat plural. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap penguatan teori konflik Dahrendorf melalui bukti empiris praktik filantropi lintas iman serta menawarkan implikasi bagi pengembangan model solidaritas sosial di ruang publik Indonesia.