Penelitian ini bertujuan mengkaji karya kriya logam Balimau karya Marten Agung Laksono melalui pendekatan kritik seni untuk mengungkap aspek visual, makna simbolik, serta posisi karya dalam perkembangan kriya logam kontemporer. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik seni Edmund Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi, data penelitian ini diperoleh melalui pengamatan visual karya, studi pustaka, serta analisis kontekstual terhadap latar budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya. Melalui tahapan analisis formal, diketahui bahwa karya Balimau yang merupakan kriya logam dua dimensi berbentuk relief panel ini mengolah unsur garis, bidang, tekstur, cahaya, serta komposisi tripartit secara harmonis guna membangun keseimbangan visual yang dinamis dalam mengangkat nilai budaya masyarakat Minangkabau melalui visualisasi Tradisi Balimau Kasai, Bakaba, dan Rarak Kalikih. Di sisi lain, interpretasi semiotik menggunakan teori Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes menunjukkan bahwa karya ini berfungsi sebagai sistem tanda yang memuat makna ikon, indeks, dan simbol terkait ritual penyucian diri serta nilai spiritual masyarakat Minangkabau. Melalui evaluasi komparatif dengan karya kriya logam lain, ditegaskan pula bahwa Balimau memiliki kekuatan pada narasi budaya, simbolisme sosial, dan integrasi fungsi estetis dengan nilai tradisi lokal. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa kriya logam tidak hanya berfungsi sebagai objek dekoratif, melainkan juga eksis sebagai medium representasi identitas budaya dan artikulasi nilai sosial melalui bahasa visual kontemporer yang kuat.