Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fragmentasi Tingkat Partisipasi Komunitas dalam Pengelolaan Pencemaran Sungai Loji: Analisis Cohen-Uphoff dan Arnstein Kharisma Nuzul Nabila
E-Jurnal Kajen Vol 10 No 01 (2026): Kajen:Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembangunan
Publisher : Bapperida Kabupaten Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54687/jurnalkajenv100103

Abstract

Pencemaran Sungai Loji di Kota Pekalongan terus meningkat akibat limbah domestik, industri kecil batik dan jeans, serta sampah padat, sehingga memengaruhi kualitas air dan ekosistem sungai. Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) menjadi aktor penting dalam upaya pengurangan pencemaran melalui edukasi, aksi bersih sungai, dan advokasi lingkungan. Namun efektivitas partisipasi komunitas tersebut belum pernah dianalisis secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menelaah fragmentasi tingkat partisipasi KPKL dalam pengelolaan pencemaran Sungai Loji dengan menggunakan kombinasi kerangka Cohen–Uphoff (tahapan partisipasi) dan tangga partisipasi Arnstein (tingkat kekuasaan). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif–analitis melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis dokumen termasuk data BOD–COD DLH tahun 2022–2025 (data hingga februari 2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Loji tetap berada pada kategori tercemar berat, dengan COD konsisten tinggi di segmen hilir dan lonjakan BOD ekstrem pada tahun 2023. Di sisi lain, tingkat partisipasi KPKL bersifat terfragmentasi: program edukatif seperti Sekolah Sungai mencapai tingkat partnership, sedangkan program strategis seperti advokasi IPAL berada pada tingkat consultation hingga non-participation. Mayoritas program komunitas terperangkap pada level tokenism, di mana keterlibatan tidak disertai pengaruh pada pengambilan keputusan. Fragmentasi ini menjelaskan terbatasnya dampak upaya komunitas terhadap perbaikan kualitas air. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan pencemaran sungai membutuhkan tata kelola kolaboratif yang memberikan ruang partisipasi substantif, bukan sekadar pelibatan simbolis, dalam proses perencanaan, regulasi, dan pengawasan lingkungan.