Semoel Leonard Samsu
Prodi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKKAN PEMERIKSAAN INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA WANITA USIA SUBUR DI KOTA AMBON Jeane Rosalina Matahelumual; Harimat Hendrawan; Semoel Leonard Samsu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9946

Abstract

Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) is a key strategy for the early detection of cervical cancer recommended by the World Health Organization (WHO) and included in Indonesia’s Minimum Health Service Standards. However, the coverage of VIA screening among women of reproductive age (WRA) in Ambon City remains below the national target of 70%. This study aimed to analyze the implementation of the VIA screening policy for WRA in Ambon City using the Van Meter and Van Horn policy implementation model. This study employed a qualitative approach with a policy implementation design. Data were collected through in-depth interviews with key stakeholders and supported by observations in six primary health centers. Data analysis was conducted thematically based on the six variables of the Van Meter and Van Horn model. The findings indicate that the implementation of the VIA screening policy has not been optimal. Policy standards and objectives have not been effectively operationalized at the primary health care level. Limited trained human resources, inadequate facilities, and insufficient budget allocation are the main constraints. In addition, communication and supervision remain limited, while sociocultural factors such as stigma and embarrassment hinder WRA participation. Nevertheless, implementers demonstrate a positive level of commitment. In conclusion, strengthening implementation capacity through improved resources, supervision systems, and culturally sensitive approaches is essential to enhance the effectiveness of the VIA screening program. ABSTRAK Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan strategi utama dalam deteksi dini kanker serviks yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) serta menjadi indikator dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Namun, cakupan pemeriksaan IVA pada wanita usia subur (WUS) di Kota Ambon masih berada di bawah target nasional sebesar 70%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan pemeriksaan IVA bagi WUS di Kota Ambon dengan menggunakan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis implementasi kebijakan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan terkait serta observasi di enam puskesmas. Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan enam variabel dalam model Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pemeriksaan IVA belum optimal. Standar dan tujuan kebijakan belum teroperasionalisasi dengan baik di tingkat puskesmas. Keterbatasan sumber daya manusia terlatih, sarana prasarana, serta dukungan anggaran menjadi kendala utama. Selain itu, komunikasi dan pengawasan masih terbatas, serta faktor sosial budaya seperti stigma dan rasa malu turut menghambat partisipasi WUS. Meskipun demikian, pelaksana menunjukkan komitmen yang baik. Disimpulkan bahwa diperlukan penguatan kapasitas implementasi melalui peningkatan sumber daya, sistem pengawasan, dan pendekatan sosial budaya yang lebih komprehensif.
STRATEGI MANAJEMEN VAKSIN EFEKTIF DI KOTA AMBON Yustina Letty; Risky Kusuma Hartono; Semoel Leonard Samsu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9998

Abstract

Effective vaccine management is a critical component in the success of immunization programs, particularly in maintaining vaccine quality and ensuring availability at healthcare facilities. This study aims to analyze effective vaccine management strategies in Ambon City using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation approach. A qualitative method was employed, with data collected through in-depth interviews, observations, and document reviews involving 22 informants, including heads of primary healthcare centers, immunization program managers, vaccine managers, as well as representatives from the Health Office and the Pharmaceutical Installation Unit (UPTD). The findings indicate that, in terms of context, vaccine management is supported by national policies and directives from the Health Office, although no specific operational policies exist at the primary healthcare level. In the input aspect, human resources and infrastructure are relatively adequate; however, multiple job responsibilities and the lack of continuous training remain challenges. In the process aspect, vaccine distribution, storage, and temperature monitoring have been implemented according to standards, including the application of the FEFO principle and the use of Vaccine Vial Monitors (VVM), although the utilization of temperature monitoring technology is not yet optimal. In the product aspect, vaccine quality is well maintained with no significant damage reported; however, immunization coverage is still affected by distribution constraints and stock availability. In conclusion, vaccine management strategies in Ambon City have been operationally effective but require further strengthening through the standardization of local policies, enhancement of human resource capacity, and optimization of technology-based monitoring and distribution systems to improve sustainability and immunization program coverage. ABSTRAK Manajemen vaksin yang efektif merupakan komponen penting dalam keberhasilan program imunisasi, terutama dalam menjaga mutu vaksin dan menjamin ketersediaannya di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen vaksin yang efektif di Kota Ambon menggunakan pendekatan evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap 22 informan yang terdiri dari kepala puskesmas, pengelola imunisasi, pengelola vaksin, serta pihak Dinas Kesehatan dan UPTD Farmasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara konteks, manajemen vaksin telah didukung oleh kebijakan nasional dan arahan Dinas Kesehatan, meskipun belum terdapat kebijakan operasional khusus di tingkat puskesmas. Pada aspek input, sumber daya manusia dan sarana prasarana relatif memadai, namun masih terdapat beban kerja rangkap dan pelatihan yang belum berkelanjutan. Pada aspek proses, distribusi, penyimpanan, dan pemantauan suhu vaksin telah berjalan sesuai standar dengan penerapan prinsip FEFO dan penggunaan VVM, meskipun pemanfaatan teknologi pemantauan suhu belum optimal. Pada aspek produk, mutu vaksin terjaga dengan baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan, namun capaian imunisasi masih dipengaruhi oleh kendala distribusi dan ketersediaan stok. Kesimpulannya, strategi manajemen vaksin di Kota Ambon telah berjalan efektif secara operasional, tetapi memerlukan penguatan melalui standarisasi kebijakan daerah, peningkatan kapasitas SDM, serta optimalisasi sistem pemantauan dan distribusi berbasis teknologi untuk meningkatkan keberlanjutan dan capaian program imunisasi.
PENGARUH EDUKASI VIDEO ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS URIMESSING Martje Huwae; Mustopa Mustopa; Semoel Leonard Samsu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.10006

Abstract

Hypertension is a non-communicable disease that significantly contributes to morbidity and mortality and requires long-term management. One of the major challenges in hypertension control is low medication adherence, which is influenced by patients’ level of knowledge. This study aimed to analyze the effect of animation-based video education on improving knowledge and medication adherence among hypertensive patients at Urimessing Public Health Center, Ambon City. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. A total of 58 respondents were selected using purposive sampling. The research instruments included a knowledge questionnaire and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). The intervention was delivered through an animation-based educational video. Data were analyzed using univariate and bivariate methods with the McNemar test. The results showed a significant increase in both knowledge and medication adherence after the intervention (p < 0.001). These findings indicate that animation-based video education is effective in improving patients’ understanding and adherence behavior in hypertension management. Therefore, this approach can be recommended as an innovative educational strategy in primary healthcare settings. ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang berkontribusi besar terhadap angka kesakitan dan kematian serta memerlukan pengelolaan jangka panjang. Salah satu permasalahan utama dalam pengendalian hipertensi adalah rendahnya kepatuhan minum obat yang dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi berbasis video animasi terhadap peningkatan pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Urimessing Kota Ambon. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 58 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner pengetahuan dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Intervensi diberikan melalui edukasi menggunakan video animasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji McNemar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat setelah intervensi dengan nilai p < 0,001. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi berbasis video animasi efektif dalam meningkatkan pemahaman dan perilaku kepatuhan pasien dalam pengelolaan hipertensi. Oleh karena itu, media video animasi dapat direkomendasikan sebagai strategi edukasi inovatif dalam meningkatkan kualitas promosi kesehatan di pelayanan kesehatan primer.