The Ngaben Mesabu Getian ceremony in Pakraman Bulian Village, Kubutambahan District, Buleleng Regency is a distinctive Balinese funerary tradition that embodies educational values rooted in local wisdom. This study aimed to describe the ethnopedagogical values embedded in the implementation of the Ngaben Mesabu Getian ceremony. A qualitative approach with an ethnographic design was employed. Informants were selected using the snowball sampling technique, involving customary leaders, Jro Mangku, customary village officials, and community members. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that ethnopedagogical values are transmitted naturally through community participation in every stage of the ceremony. These values include Parahyangan, reflected in strengthening sraddha and bhakti toward Ida Sang Hyang Widhi Wasa; Pawongan, reflected in mutual cooperation (nulungin and ngopin), social solidarity, and intergenerational transmission of customary knowledge; and Palemahan, reflected in respect for nature and maintaining harmony between humans and the environment. The study concludes that the Ngaben Mesabu Getian ceremony serves as an effective ethnopedagogical medium for transmitting cultural, spiritual, social, and ecological values based on the philosophy of Tri Hita Karana. ABSTRAK Upacara Ngaben Mesabu Getian di Desa Pakraman Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng merupakan tradisi kematian khas masyarakat Bali yang mengandung nilai-nilai pendidikan berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai etnopedagogi yang terkandung dalam pelaksanaan Upacara Ngaben Mesabu Getian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Informan ditentukan melalui teknik snowball sampling yang melibatkan tokoh adat, Jro Mangku, perangkat desa adat, dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai etnopedagogi diwariskan secara alami melalui keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan upacara. Nilai tersebut meliputi dimensi Parahyangan berupa penguatan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dimensi Pawongan berupa penanaman nilai gotong royong (nulungin dan ngopin), solidaritas, serta regenerasi pengetahuan adat, dan dimensi Palemahan berupa penghormatan terhadap alam serta upaya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa Upacara Ngaben Mesabu Getian merupakan media etnopedagogi yang efektif dalam mewariskan nilai budaya, spiritual, sosial, dan ekologis kepada generasi muda berbasis filosofi Tri Hita Karana.