Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 melalui penggunaan media papan penjumlahan pada murid disabilitas rungu kelas II di SLB Haropana Hilmi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan Single Subject Research (SSR) dan desain A–B–A yang terdiri atas kondisi Baseline-1 (A1) sebanyak 3 sesi, Intervensi (B) sebanyak 8 sesi, dan Baseline-2 (A2) sebanyak 3 sesi. Subjek penelitian adalah seorang murid disabilitas rungu kelas II yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep penjumlahan dan menentukan hasil penjumlahan dalam bentuk simbol bilangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes perbuatan dan observasi. Data dianalisis menggunakan analisis visual dalam kondisi dan analisis visual antar kondisi yang meliputi kecenderungan arah, kecenderungan stabilitas, perubahan level, dan persentase overlap. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 setelah diberikan intervensi menggunakan media papan penjumlahan. Pada kondisi Baseline-1 (A1), kemampuan murid berada pada persentase 30%, kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai 90% pada kondisi Intervensi (B). Selanjutnya, pada kondisi Baseline-2 (A2), kemampuan murid dapat dipertahankan pada persentase 90% pada setiap sesi. Hasil analisis persentase overlap antara kondisi Baseline-1 (A1) dan Intervensi (B) menunjukkan persentase sebesar 0%, yang menunjukkan tidak adanya data yang tumpang tindih antara kedua kondisi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa media papan penjumlahan dapat meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 pada murid disabilitas rungu. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa media papan penjumlahan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang konkret dan visual untuk membantu murid disabilitas rungu dalam memahami konsep penjumlahan bilangan 1–10.