p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Kaslinda Nur Umifa
Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS. Dr. Soepraoen Kesdam V/BRW

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Caring Behavior Penata Anestesi Terhadap Tingkat Kecemasan Praoperasi pada Pasien Bedah Elektif dengan Hipertensi di RST Dr. Soepraoen Triveriana Oktaviani Poniran; Suryanto Suryanto; Kaslinda Nur Umifa
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.921

Abstract

Kondisi cemas yang muncul menjelang tindakan operasi merupakan masalah mental umum dijumpai pada klien yang akan menjalani tindakan medis, khususnya bagi mereka yang memiliki hipertensi, yang dapat berisiko mengalami peningkatan tekanan darah karena stres sebelum operasi. Studi ini dengan tujuan menganalisis keterkaitan perilaku perhatian penata anestesi dan tingkat kecemasan sebelum operasi pada pasien hipertensi yang menjalani prosedur yang direncanakan di RST Dr. Soepraoen Malang. Studi ini menerapkan metode analitik korelasional melalui pendekatan cross-sectional, dan melibatkan 69 peserta yang diambil melalui teknik pengambilan purposive sampling. Informasi mengenai perilaku caring diperoleh dengan menggunakan Caring Behavior Inventory (CBI), dan tingkatan kecemasan dikaji dengan instrumen APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) serta dianalisis dengan pengujian Spearman-Rho. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas klien menganggap perilaku perhatian penata anestesi kategori baik (97,1%) dan sebagian besar pasien mengalami kecemasan dalam kategori ringan (66,7%). Dalam analisis statistik, didapatkan P-Value = 0,003 dengan koefisien korelasi menunjukkan nilai r = -0,354, analisis data menggambarkan adanya korelasi berbanding terbalik (negatif) yang signifikan meskipun dengan kekuatan yang rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa derajat cemas yang dirasakan oleh klien berkurang seiring dengan peningkatan kualitas perawatan anestesi. Salah satu batasan dari penelitian ini adalah hanya dilakukan di satu rumah sakit dan tidak mempertimbangkan faktor lain yang mungkin mempengaruhi tingkat kecemasan. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan Caring Behavior dalam mendukung kesiapan psikologis pasien praoperasi.
Gambaran Kejadian Shivering Pasca Operasi dengan Spinal Anestesi di Ruang Pemulihan RSUD DR Soedomo Trenggalek Rohmat Alfarizi; Kaslinda Nur Umifa; Emanuel Ileatan Lewar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.996

Abstract

Shivering adalah salah satu masalah yang sering terjadi setelah Spinal anestesi, akibat gangguan termoregulasi. Masalah ini dapat menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, beban kerja jantung bertambah, dan juga membuat pasien merasa tidak nyaman selama proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian shivering pada pasien pascaoperasi dengan anestesi Spinal di ruang pemulihan RSUD dr. Soedomo Trenggalek. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional. Sampel berjumlah 60 pasien yang dipilih dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan dengan mengamati menggunakan lembar observasi berdasarkan Crossley and Mahajan Shivering Scale lalu dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden termasuk dalam kelompok usia 18–59 tahun (85%), memiliki indeks massa tubuh 25,0–30,0 kg/m² (51,7%), berjenis kelamin perempuan (68,3%), mendapat terapi vasopresor (60%), memiliki status fisik ASA II (56,7%), dan tinggi blok anestesi T5 (55%). Derajat shivering yang paling banyak ditemukan adalah derajat 2 sebanyak 26 responden (43,3%), diikuti derajat 1 dan derajat 3 masing-masing 15 responden (25,0%), sedangkan derajat 0 sebanyak 4 responden (6,7%) dan tidak ditemukan derajat 4. Kejadian shivering masih sering ditemukan pada pasien pascaoperasi dengan Spinal anestesi sehingga diperlukan pemantauan dan deteksi dini di ruang pemulihan untuk mendukung pencegahan serta penatalaksanaan yang optimal.