Emma Aprilia Hastuti
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Emotional Mental Health Among Adolescents: A Profiling Psychosocial Risk Distribution Emma Aprilia Hastuti; Vena Annisa Rudianty; Ade Iwan Mutiudin; Deris Riandi Setiawan
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i1.988

Abstract

Background: Adolescents are a vulnerable population to emotional and mental health problems due to rapid biological, psychological, and social changes. National surveys have reported increasing levels of anxiety, loneliness, and behavioral problems among adolescents; however, local evidence describing the distribution of adolescent emotional and mental health problems remains limited, particularly in school settings. Objective: This study aimed to describe the distribution and profile of emotional and mental health problems among adolescents based on school-based psychosocial screening in Bandung Regency, Indonesia. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 1,304 adolescents who participated in a school-based mental health screening program in 2025. Emotional and behavioral problems were assessed using the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), covering five domains: emotional symptoms, conduct problems, hyperactivity, peer relationship problems, and prosocial behavior. Data were analyzed descriptively using frequencies and percentages. Results: Most adolescents were classified as normal in the domains of emotional symptoms (67.9%), conduct problems (67.2%), hyperactivity (81.8%), and prosocial behavior (57.8%). However, a relatively high proportion of abnormal scores was observed in peer relationship problems (27.1%) and emotional symptoms (20.6%). Based on the total difficulties score, 3.4% of adolescents were categorized as abnormal, indicating the presence of a psychosocial risk burden within the adolescent population. These findings suggest that peer relationship difficulties and emotional problems constitute prominent areas of concern. Conclusion: This study provides a descriptive overview of emotional and mental health problems among adolescents identified through school-based psychosocial screening. The findings underscore the potential role of routine screening in supporting early identification of adolescents at risk of psychosocial difficulties. Further evaluative and longitudinal studies are needed to assess the effectiveness of screening programs and related interventions in improving adolescent mental health outcomes
EFEKTIVITAS SENI USIK WIWITAN DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA PENYINTAS KANKER DI YAYASAN TANGAN BAIK INSANI Alfina Nurislami; Emma Aprilia Hastuti; Efri Widianti; Siti Sugih Hartiningsih
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 1 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i1.580

Abstract

Latar Belakang: Penyintas kanker menghadapi permasalahan yang terdiri dari berbagai aspek yaitu bio-psiko-sosio-spiritual. Permasalahan pada aspek psikologis, seperti gangguan kecemasan. Untuk mengatasi kecemasan penelitian ini menggunakan intervensi Seni Usik Wiwitan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh Seni Usik Wiwitan terhadap tingkat kecemasan pada penyintas kanker di Yayasan Tangan Baik Insani. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah pra experiment dengan desain penelitian one group prestest posttest design. Populasi dalam penelitian ini yaitu penyintas kanker yang ada di Yayasan Tangan Baik Insani dengan total sebanyak 100 orang dalam satu bulan terakhir. Sampel penelitian ini sebanyak 50 orang. Sebelum dilakukan intervensi Seni Usik Wiwitan sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang yaitu sebanyak 31 orang (63%). Sementara setelah dilakukan intervensi Seni Usik Wiwitan mayoritas responden memiliki kecemasan ringan yaitu sebanyak 26 orang (52%). Setelah dilakukan uji Wilcoxon Signred Rank Test didapatkan nilai P-Value sebesar 0,000 (< 0,05) Hasil: Terdapat pengaruh dari Seni Usik Wiwitan terhadap tingkat kecemasan pada penyintas kanker di Yayasan Tangan Baik Insani. H1 diterima dan H0 ditolak.
Analisis Determinan Faktor Penyebab Kecemasan Pada Pasien Pra Operasi Elektif Emma Aprilia Hastuti; Sela Aristiawati; Ade Iwan Mutiudin
Karya Kesehatan Siwalima Vol. 4 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v4i1.1683

Abstract

Kecemasan praoperatif merupakan masalah umum pada pasien operasi elektif yang dapat memengaruhi kondisi psikologis, fisiologis, kebutuhan anestesi, hingga proses pemulihan pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan kecemasan praoperatif pada pasien operasi elektif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan melibatkan 50 responden. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal berupa pekerjaan (p=0,011; r=0,356), riwayat operasi (p=0,003; r=0,416), keluhan fisik (p=0,042; r=0,289), pengetahuan (p=0,002; r=0,434), dan konsep diri (p=0,000; r=0,498) berhubungan signifikan dengan kecemasan praoperatif. Faktor eksternal yang berhubungan bermakna adalah jenis operasi (p=0,000; r=0,489) dan dukungan keluarga (p=0,018; r=0,334). Sementara itu, variabel usia (p=0,188) dan pendidikan (p=0,942) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa kecemasan praoperatif bersifat multifaktorial, dipengaruhi oleh kombinasi faktor personal, psikososial, dan prosedural. Pasien dengan pekerjaan aktif, belum pernah menjalani operasi, serta memiliki keluhan fisik cenderung lebih cemas, sedangkan pasien dengan pengetahuan baik, konsep diri positif, dan dukungan keluarga memadai cenderung lebih tenang. Dengan demikian, diperlukan upaya komprehensif melalui skrining rutin kecemasan, edukasi terstruktur, komunikasi terapeutik, dan keterlibatan keluarga sebagai bagian dari manajemen praoperatif. Intervensi yang terintegrasi diharapkan mampu menurunkan tingkat kecemasan sekaligus meningkatkan kualitas perawatan pasien operasi elektif.