Islamic Religious Education (PAI) learning in the digital era requires innovative approaches to attract students' interest and develop their skills. Creative da'wah-based learning emerges as a solution that integrates digital technology, arts, and experiential learning approaches. This study aims to explore the experiences of MA Bilingual Al Amanah students in developing skills through creative da'wah-based PAI learning. The method used is descriptive qualitative with a case study design. Data collection was carried out through in-depth interviews, observations, and documentation of 12 students, PAI teachers, and the madrasah principal. The results show that this learning model successfully developed five main skills: creativity and innovation, multimodal communication, collaboration and teamwork, digital literacy, and problem-solving and adaptability. In addition, students experienced increased learning motivation and deeper internalization of Islamic values. Despite facing obstacles such as limited technological resources, digital capability disparities, and time management challenges, this learning model proved effective in shaping competent and characterful digital Muslims. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital membutuhkan pendekatan inovatif untuk menarik minat siswa dan mengembangkan keterampilan mereka. Pembelajaran berbasis dakwah kreatif muncul sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital, seni, dan pendekatan experiential learning. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman siswa MA Bilingual Al Amanah dalam mengembangkan keterampilan melalui pembelajaran PAI berbasis dakwah kreatif. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap 12 siswa, guru PAI, dan kepala madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ini berhasil mengembangkan lima keterampilan utama: kreativitas dan inovasi, komunikasi multimodal, kolaborasi dan teamwork, literasi digital, serta problem-solving dan adaptabilitas. Selain itu, siswa mengalami peningkatan motivasi belajar dan internalisasi nilai-nilai Islam yang lebih mendalam. Meskipun menghadapi hambatan berupa keterbatasan sarana teknologi, perbedaan kemampuan digital, dan tantangan manajemen waktu, model pembelajaran ini terbukti efektif dalam membentuk Muslim digital yang kompeten dan berkarakter