ABSTRACT The implementation of a nationally standardized digital performance management system through e-Kinerja BKN presents particular challenges for schools in tidal areas with limited infrastructure, particularly in maintaining teachers’ motivation and professionalism dynamics. This study aims to analyze and describe the impact of the e-Kinerja BKN evaluation system implementation on teachers’ motivation and professionalism dynamics during the planning, implementation, and supervision phases at SDN 12 Muara Padang, Muara Padang District. This study employs a qualitative approach with a phenomenological design. Data collection was conducted through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation studies involving the school principal, senior teachers, junior teachers, PPPK teachers, and school operators. The results, analyzed using Herzberg's Two-Factor Theory, indicate that the implementation of e-Kinerja is dominated by hygiene factors (such as procedural compliance and fear of performance allowance deductions), which shifts intrinsic pedagogical motivation into mere administrative routines. Unstable internet network and electricity supply constraints trigger technostress (techno-overload and techno-uncertainty) among teachers and create the phenomenon of an invisible labor burden borne by school operators. In conclusion, the e-Kinerja system has the potential to reconstruct teachers' professional identities from substantive professionalism to administrative professionalism, where performance is evaluated more by digital data displays rather than the actual impact of learning in the classroom. ABSTRAK Penerapan sistem manajemen kinerja digital yang seragam secara nasional melalui e-Kinerja BKN menghadirkan tantangan tersendiri bagi sekolah di wilayah pasang surut dengan keterbatasan infrastruktur, terutama dalam menjaga dinamika motivasi dan profesionalisme guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan dampak implementasi sistem evaluasi e-Kinerja BKN terhadap dinamika motivasi dan profesionalisme guru pada fase perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan di SDN 12 Muara Padang, Kecamatan Muara Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi terhadap informan yang terdiri dari kepala sekolah, guru senior, guru junior, guru PPPK, dan operator sekolah. Hasil penelitian, yang dianalisis menggunakan Teori Dua Faktor Herzberg, menunjukkan bahwa implementasi e-Kinerja mendominasi faktor hygiene (seperti kepatuhan prosedural dan ketakutan pemotongan tunjangan kinerja), sehingga menggeser motivasi intrinsik pedagogis menjadi rutinitas kewajiban administratif semata. Kendala infrastruktur berupa jaringan internet dan pasokan listrik yang tidak stabil memicu technostress (techno-overload dan techno-uncertainty) pada guru dan memunculkan fenomena beban kerja tak terlihat (invisible labor) yang ditanggung oleh operator sekolah. Kesimpulannya, sistem e-Kinerja berpotensi merekonstruksi identitas profesional guru dari profesionalisme substantif menuju profesionalisme administratif, di mana kinerja lebih diukur dari tampilan data pada sistem dibandingkan dampak nyata pembelajaran di ruang kelas.