Yohanis Tamastola
Manado Health Polytechnic, Manado, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

T Tuberculosis-Diabetes Mellitus Education and Risk Screening through a Community Based Approach in Karimbow Talikuran Village, Motoling Timur Subdistrict, South Minahasa Regency Elne Vieke Rambi; Dionysius Sumenge; Yohanis Tamastola; Nurmila Sunati; Marjes Netro Tumurang; Indriani Yauri
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.1194

Abstract

Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM) merupakan dua masalah kesehatan masyarakat yang saling berhubungan dan berkontribusi terhadap beban ganda penyakit menular dan tidak menular. DM meningkatkan risiko terjadinya TB aktif, memperburuk respons imun, serta berhubungan dengan peningkatan risiko kegagalan terapi, kekambuhan, dan TB resistan obat. Di sisi lain, status gizi yang buruk dapat memperburuk luaran klinis pasien TB maupun TB–DM. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai TB–DM, melakukan skrining awal risiko hiperglikemia melalui pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), serta memperkuat peran kader dan pemerintah desa dalam edukasi kesehatan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Karimbow, Kecamatan Motoling Timur, Kabupaten Minahasa Selatan pada Maret–September 2025 dengan pendekatan evaluasi program pra-eksperimental satu kelompok. Intervensi dilakukan melalui sosialisasi, edukasi kesehatan, penyuluhan gizi, pemeriksaan GDS, diskusi kelompok, dan monitoring evaluasi. Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan, terdiri atas 72% perempuan dan 62% kelompok usia dewasa 18–59 tahun. Rata-rata GDS peserta adalah 137,9 mg/dL dengan rentang 81–420 mg/dL. Temuan ini menunjukkan adanya peserta dengan nilai glukosa darah tinggi yang memerlukan pemeriksaan konfirmasi lebih lanjut di fasilitas kesehatan. Hasil evaluasi pengetahuan pascaedukasi menunjukkan capaian jawaban benar sebesar 82–96%, dengan capaian tertinggi pada topik TB-MDR dan capaian terendah pada topik gizi seimbang bagi pasien TB–DM. Kegiatan ini menunjukkan potensi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan mengidentifikasi individu berisiko hiperglikemia, tetapi efektivitas program terhadap pengendalian TB–DM belum dapat disimpulkan secara kausal karena tidak adanya kelompok pembanding, belum tersedianya data pre-test individual yang dianalisis secara inferensial, dan belum dilakukannya pemeriksaan diagnostik TB. Program serupa perlu diperkuat melalui skrining TB–DM dua arah, pemeriksaan konfirmasi glukosa darah, pemantauan status gizi, sistem rujukan Puskesmas, serta pemberdayaan kader kesehatan secara berkelanjutan.