Secara geomorfologi, Cekungan Bintuni dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu wilayah lepas pantai di Teluk Bintuni, daratan bagian utara yang mencakup Steenkool, Tembuni, Mogoi, dan Wasian, serta daratan bagian selatan mencakup Kasuri dan Babo. Kawasan ini memiliki peranan penting dalam kontribusi produksi hidrokarbon, terutama dari area Teluk Bintuni. Lapangan MOD terletak pada wilayah daratan di Cekungan Bintuni, Papua Barat, yang pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh Nederlandsche Nieuw Guinee Petroleum Maatschappij (NNGPM), dan saat ini berada di bawah pengelolaan KSO Petro Papua Mogoi Wasian. Penelitian ini difokuskan pada analisis karakteristik, potensi/kualitas, serta kualitas batuan induk Formasi Ainim yang berumur Permian Akhir hingga Trias Awal, termasuk penentuan tingkat kematangan termalnya di Lapangan MOD. Pendekatan yang digunakan mencakup evaluasi geokimia dan kajian batuan induk. Hasil analisis menunjukkan bahwa Formasi Ainim memiliki kandungan bahan organik yang melimpah, sebagaimana tercermin dari nilai Total Organic Carbon (TOC) dan Pyrolysis Yield (PY). Nilai Hydrogen Index (HI) yang relatif rendah mengindikasikan dominasi kerogen tipe III. Mengacu pada parameter reflektansi vitrinit (Ro) dan Spore Color Index (SCI), batuan induk ini telah mencapai tahap kematangan termal. Namun, nilai Tmax yang rendah memperlihatkan adanya ketidaksesuaian (anomali) karena tidak mendukung hasil yang diperoleh dari parameter Ro dan SCI.