Nasrullah Nasrullah
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Program Pascasarjana, Universitas Bosowa

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penanganan Permukiman Kumuh Dengan Pendekatan Karateristik Dan Faktor Penyebab Kekumuhan Di Kelurahan Wandaka, Kabupaten Buton Utara Agit Djatmiko; Nasrullah Nasrullah; Rudi Latief
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7493

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor dominan penyebab kekumuhan permukiman di Kawasan Wandaka, Kabupaten Buton Utara, menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi lapangan terhadap 87 rumah tangga yang dipilih secara proportionate stratified random sampling. Hasil uji Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0,782 dan Bartlett’s Test signifikan (p < 0,05) menunjukkan data layak untuk PCA. Analisis menghasilkan dua komponen utama dengan total varian 74,32%. Komponen pertama adalah faktor sosial-ekonomi yang mencakup pendapatan, pendidikan, mata pencaharian, dan kepemilikan lahan, sedangkan komponen kedua adalah faktor demografi keluarga yang diwakili oleh jumlah anggota keluarga. Temuan menunjukkan bahwa kekumuhan di Wandaka dipengaruhi terutama oleh keterbatasan ekonomi dan tekanan demografis. Oleh karena itu, strategi penanganan perlu mencakup peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengendalian kepadatan penduduk, dan perbaikan akses terhadap layanan dasar. This study aims to identify the dominant factors causing slum conditions in the Wandaka area, North Buton Regency, using the Principal Component Analysis (PCA) method. Data were collected through questionnaires and field observations of 87 households selected using proportionate stratified random sampling. The Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) test result of 0.782 and Bartlett's Test significance (p < 0.05) indicate that the data is suitable for PCA. The analysis produced two main components with a total variance of 74.32%. The first component was the socioeconomic factor, which included income, education, livelihood, and land ownership, while the second component was the family demographic factor, represented by the number of family members. The findings indicate that slum conditions in Wandaka are mainly influenced by economic constraints and demographic pressures. Therefore, mitigation strategies need to include improving community welfare, controlling population density, and improving access to basic services.
Strategi Pengendalian Kawasan Permukiman Kumuh Di Perkotaan Nabire Provinsi Papua Tengah Berlin Batosau; Nasrullah Nasrullah; Rudi Latief
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7633

Abstract

Permasalahan permukiman kumuh di wilayah perkotaan merupakan isu multidimensi yang mencakup aspek fisik, sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Di Perkotaan Nabire, khususnya di Kawasan Pasar Kalibobo, tekanan urbanisasi yang tinggi, lemahnya tata kelola ruang, dan keterbatasan infrastruktur dasar telah memicu terbentuknya kawasan permukiman tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya permukiman kumuh serta merumuskan strategi pengendalian yang kontekstual dan berkelanjutan sesuai dengan karakteristik lokal Nabire. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan dominasi pendekatan kuantitatif yang didukung oleh analisis kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan uji kontingensi untuk mengetahui hubungan antara faktor sosial-ekonomi, fisik-lingkungan, dan kelembagaan terhadap tingkat kekumuhan. Sedangkan analisis kualitatif menggunakan Analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengendalian berbasis kondisi internal dan eksternal kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial-ekonomi (pendapatan, pendidikan, pekerjaan), aspek fisik-lingkungan (kualitas bangunan, drainase, sanitasi), serta aspek kelembagaan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kekumuhan. Strategi pengendalian yang dihasilkan berfokus pada tiga prioritas utama, yaitu: (1) pencegahan, melalui penegakan rencana tata ruang dan pemberdayaan masyarakat; (2) peningkatan kualitas lingkungan, melalui perbaikan infrastruktur dasar secara partisipatif; dan (3) penguatan kelembagaan, dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan perencanaan dan implementasi. Strategi ini sejalan dengan pendekatan slum upgrading terpadu yang direkomendasikan oleh UN-Habitat (2015), serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-11, yaitu mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. The problem of slum settlements in urban areas is a multidimensional issue that encompasses physical, social, economic, and institutional aspects. In Nabire City, particularly in the Kalibobo Market area, high urbanization pressure, weak spatial governance, and limited basic infrastructure have led to the formation of uninhabitable residential areas. This research aims to identify the factors influencing the formation of slums and to formulate contextual and sustainable control strategies in accordance with the local characteristics of Nabire. This research uses a mixed methods approach, with a dominance of quantitative methods supported by qualitative analysis. Quantitative analysis was conducted using Chi-Square tests and contingency tables to determine the relationship between socio-economic, physical-environmental, and institutional factors and the level of slum conditions. Qualitative analysis, on the other hand, used SWAT analysis to formulate control strategies based on the internal and external conditions of the area. The research findings indicate that socio-economic aspects (income, education, employment), physical-environmental aspects (building quality, drainage, sanitation), and institutional aspects have a significant influence on the level of slum conditions. The resulting control strategy focuses on three main priorities: (1) prevention, thru the enforcement of spatial planning regulations and community empowerment; (2) improving environmental quality, by participatory improvement of basic infrastructure; and (3) strengthening institutions, by increasing the capacity of local governments and involving the community in all stages of planning and implementation. This strategy aligns with the integrated slum upgrading approach recommended by UN-Habitat (2015), and supports the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 11, which is to make cities and human settlements inclusive, safe, resilient, and sustainable.
Pengendalian Terhadap Densifikasi Permukiman Sebagai Akibat Terjadinya Urban Sprawl Di Wilayah Peri Urban Kota Bulukumba Riska Ramadhani Basman; Rudi Latief; Nasrullah Nasrullah
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i1.7647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh urban sprawl terhadap densifikasi permukiman di wilayah peri-urban Kota Bulukumba serta mengidentifikasi  strategi pengendaliannya. Pendekatan penelitian  yang digunakan adalah mixed methods, dengan analisis kuantitatif melalui uji statistik dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam serta studi kebijakan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urban sprawl memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap densifikasi permukiman  (koefisien  regresi  -1,974; sig =  0,001). Artinya,  semakin  tinggi tingkat penyebaran  pembangunan horizontal, semakin rendah tingkat kepadatan permukiman di wilayah peri-urban. Fenomena ini diperparah oleh lemahnya implementasi kebijakan tata ruang, maraknya konversi lahan pertanian, dan minimnya infrastruktur dasar. Strategi pengendalian yang direkomendasikan  meliputi  penguatan   RTRW/RDTR  berbasis  prinsip  smart  growth,  penerapan  konsep  compact  city, pengawasan  konversi  lahan  produktif,  serta  pemberian  insentif  bagi  pembangunan  vertikal  di  pusat  kota.  Temuan  ini menegaskan pentingnya integrasi antara kebijakan tata ruang, pembangunan berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat untuk mencegah munculnya kawasan padat tidak terencana di wilayah peri-urban Bulukumba. This study aims to analyze the effect of urban sprawl on residential densification in the peri-urban area of Bulukumba City and to identify appropriate control strategies. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative statistical analysis with qualitative assessments through interviews and spatial planning policy reviews. The results reveal that urban sprawl has a negative and significant influence on residential densification (regression coefficient = -1.974; p = 0.001). This indicates that greater horizontal expansion of urban development corresponds to lower housing density in peri-urban areas. The phenomenon is exacerbated by weak spatial policy enforcement, extensive land conversion from agriculture, and insufficient basic infrastructure. Recommended control strategies include strengthening spatial planning instruments (RTRW/RDTR) based on smart growth and compact city principles, regulating land conversion, and providing incentives or vertical housing development in city centers.  The findings highlight the necessity of integrating spatial planning policies, sustainable development principles, and community participation to prevent the emergence of unplanned dense settlements in Bulukumba’s peri-urban zones.