Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penanganan permukiman kumuh di kawasan perkotaan Kabupaten Pinrang melalui pendekatan eco-settlement berbasis partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan survei. Analisis data dilakukan menggunakan SWOT melalui pendekatan IFAS dan EFAS untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam penanganan kawasan kumuh. Selain itu, analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk menggambarkan kondisi dan persebaran permukiman kumuh secara keruangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan kumuh di Kabupaten Pinrang umumnya tergolong kumuh ringan yang dipengaruhi oleh urbanisasi, pertumbuhan penduduk, keterbatasan akses terhadap hunian layak, rendahnya kualitas sarana dan prasarana, faktor sosial ekonomi masyarakat, serta lemahnya koordinasi tata ruang dan kelembagaan. Konsep eco-settlement terbukti relevan sebagai strategi penanganan karena mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara berkelanjutan. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan kolaborasi para pemangku kepentingan. This study aims to analyze alternative strategies for addressing slum settlements in the urban areas of Pinrang Regency through an eco-settlement approach based on community participation. The research employed a qualitative descriptive method, with data collected through field observations, interviews, documentation, and surveys. Data analysis was conducted using SWOT analysis, with the Internal Factors Analysis Summary (IFAS) and External Factors Analysis Summary (EFAS) frameworks, to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats associated with slum settlement management. In addition, spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS) was used to examine the spatial distribution and characteristics of slum areas. The findings indicate that slum settlements in Pinrang Regency are generally classified as light slums, influenced by urbanization, population growth, limited access to adequate housing, insufficient infrastructure and public facilities, socio-economic constraints, and weak coordination in spatial planning and institutional governance. The eco-settlement concept was found to be highly relevant as a sustainable strategy because it integrates ecological, social, economic, and institutional dimensions. The successful implementation of this approach largely depends on active community participation and strong collaboration among stakeholders.