Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan bawah yang paling sering terjadi. Pada pneumonia terjadi peradangan pada parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme. Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2022, terdapat 310.871 kasus pneumonia. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahun. Bakteri patogen penyebab pneumonia yang paling umum adalah Mycobacterium pneumoniae, Streptococcus pneumoniae, dan Haemophilus influenzae, sedangkan virus patogen penyebab pneumonia tersering adalah rhinovirus, virus influenza, dan virus parainfluenza. Dalam pembuatan narrative review ini, dimulai dengan melakukan proses pencarian artikel/jurnal di beberapa database seperti Scopus dan Google Scholar menggunakan kata kunci Community Pneumonia, Empirical Antibiotic, DDD, Gyssens, dan Clinical Outcome. Artikel/jurnal penelitian dipublikasikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2020-2025). Analisis kuantitatif antibiotika dengan metode ATC/DDD menunjukkan bahwa penggunaan antibiotika empiris terbesar adalah Ceftriaxone (golongan sefalosporin generasi 3), Levofloxacin (golongan fluorokinolon), dan Moxifloxacin (golongan kinolon). Analisis kualitatif antibiotika menggunakan alur Gyssens dan PPAB, di mana ketepatan pemberian antibiotika hasilnya bervariasi: ada yang persentase ketepatannya lebih besar, ada yang persentase ketepatannya lebih kecil. Semakin bertambah usia pasien, akan semakin meningkat risiko terkena penyakit pneumonia, dan penderita pneumonia dewasa didominasi oleh laki-laki. Adapun hubungan rasionalitas penggunaan antibiotika empiris dengan luaran klinis, hasilnya ada yang tidak berpengaruh pada outcome klinis dan ada hasil yang menunjukkan tingkat perbaikan klinis 70,7% lebih tinggi pada penggunaan antibiotika sesuai pedoman yang berpengaruh terhadap outcome klinis pasien.