Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendampingan dalam Perhitungan Harga Pokok Produksi untuk Menentukan Harga Jual Kue Kering Choco Pink di JNC Cookies Entis Sutisna; Khidir Akbar Ghofar; Agung Sunawarman; Millah Kamilah Muslimat; Acep Rohendi
Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 3 (2018): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.461 KB) | DOI: 10.31294/jabdimas.v1i3.3969

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terlalu tingginya harga jual produk kue kering Choco Pink di JNC Cookies Bandung. Sehingga perusahaan belum bisa menjadi pemimpin pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan metode cost plus pricing dengan pendekatan full costing dalam menentukan harga jual kue kering Choco Pink pada JNC Cookies. Pendekatan penelitian ini yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dengan wawancara dan dokumentasi. Subyek dalam penelitian pada JNC Cookies Bandung adalah: Pimpinan perusahaan, Bagian akuntansi, Bagian produksi dan Bagian pemasaran, sedangkan objeknya adalah: biaya-biaya untuk menghitung harga pokok produksi dan harga jual. Teknik analisis data yaitu dengan menggunakan metode full costing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode cost plus pricing dapat digunakan guna menentukan harga jual kue kering Choco Pink pada JNC Cookies. Karena metode full costing akan membebankan semua BOP baik yang bersifat tetap maupun yang bersifat variabel. Sehingga, metode full costing lebih menguntungkan bagi pihak perusahaan karena akan membebankan semua biaya-biaya yang mempengaruhi proses produksi, hal ini akan menghasilkan harga pokok produksi yang lebih akurat. Saran bagi perusahaan yaitu sebaiknya JNC Cookies menggunakan biaya overhead pabrik dalam perhitungan harga pokok produk sesuai dengan metode full costing yaitu perhitungan biaya overhead pabrik yang dibebankan pada masing -masing produk berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka sehingga dapat menghasilkan penentuan harga pokok produk yang akurat dan tepat.Kata Kunci: harga pokok produksi, harga jual, kue kering
Loyalitas Sebagai Mediator Kepuasan Pelanggan Dan Word-Of-Mouth Pengguna Shopee Entis Sutisna
Jurnal Sains Manajemen Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sains Manajemen
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/cyvq1r07

Abstract

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia telah mendorong persaingan yang semakin ketat antar platform digital, di mana kualitas pengalaman pelanggan menjadi penentu utama keberhasilan jangka panjang. Meskipun hubungan antara kepuasan pelanggan dan word-of-mouth telah banyak diteliti, mekanisme bagaimana loyalitas pelanggan memediasi hubungan tersebut masih jarang dieksplorasi secara eksplisit dalam konteks platform e-commerce Indonesia. Penelitian ini bertujuan menguji peran Loyalitas Pelanggan sebagai mediator dalam hubungan antara Kepuasan Pelanggan dan Perilaku Word-of-Mouth pada pengguna Shopee di Indonesia, dengan Customer Experience Quality sebagai anteseden. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari dataset publik Handoko dan Yustian yang tersedia di repositori Mendeley Data. Penelitian menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling dengan perangkat lunak SmartPLS. Konstruk Customer Experience Quality diukur melalui empat dimensi second-order: Peace of Mind, Moment of Truth, Outcome Focus, dan Product Experience. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis didukung: Customer Experience Quality berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pelanggan, Loyalitas, dan Word-of-Mouth; Kepuasan Pelanggan berpengaruh positif terhadap Loyalitas dan Word-of-Mouth; serta Loyalitas terbukti memediasi hubungan antara Kepuasan Pelanggan dan Word-of-Mouth. Dimensi Outcome Focus merupakan dimensi yang paling dominan dalam membentuk loyalitas dan perilaku rekomendasi pengguna. Novelty penelitian ini terletak pada pengujian eksplisit loyalitas sebagai mediator hubungan kepuasan dan word-of-mouth dalam konteks Shopee Indonesia, suatu posisi yang belum diujikan dalam penelitian terdahulu. Temuan ini memberikan implikasi manajerial bagi platform e-commerce untuk mengoptimalkan efisiensi transaksi sebagai kunci membangun loyalitas organik dan mendorong rekomendasi mulut ke mulut yang berkelanjutan.
The Lexicon-Based Sentiment Analysis for Stock Price Prediction in Islamic Fashion Industry Entis Sutisna; Rahma Dafitri; Dian Daryani
MALCOM: Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science Vol. 6 No. 2 (2026): MALCOM April 2026
Publisher : Institut Riset dan Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57152/malcom.v6i2.2586

Abstract

This study develops a lexicon-based sentiment analysis method to examine the relationship between social media sentiment and stock price movements in Indonesia's Islamic fashion industry. We collected 6,087 social media comments from TikTok, Instagram, and Twitter over 396 days, alongside daily stock data from Elzatta (ZATA). Using an Indonesian fashion-specific lexicon with 42 positive and 38 negative indicators validated through inter-annotator agreement (Cohen's Kappa = 0.82), we employed ordinary least squares regression with heteroskedasticity-robust standard errors to test sentiment-return relationships. Results show no economically significant relationship between social media sentiment and stock returns (correlation = -0.06, p = 0.240), with models explaining only 2.09% of return variance. We identify three boundary conditions limiting sentiment-based prediction: (1) feature mismatch 82% of comments discuss product attributes rather than business fundamentals, (2) demographic disconnect social media users (78% female, aged 18-29) differ markedly from investors (68% male, aged 35-55), and (3) market microstructure constraints 43% zero-volume days and 2.3% bid-ask spreads impede price discovery. This study provides the first Indonesian fashion-specific sentiment lexicon and establishes actionable validation guidelines for practitioners: sentiment features must be verified for demographic alignment and market liquidity before deployment. For machine learning applications in emerging markets
Advertising Promotion, Price Sensitivity, and Brand Image as Determinants of Purchase Decisions at Bersamastore: A Fashion MSME on Tokopedia Bandung Khidhir Akbar Ghofar; Ghani Saepuloh; Entis Sutisna; Melsa Ulfie Wahyudianty; Kannisa Adjani
Jurnal Ilmu Manajemen Terapan Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Manajemen Terapan (September - Oktober 2026)
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jimt.v8i1.9572

Abstract

This study examines the effects of advertising promotion, price sensitivity, and brand image on consumer purchase decisions at Bersamastore, a fashion micro, small, and medium enterprise (MSME) operating on the Tokopedia e-commerce platform in Bandung, Indonesia. Prior research has tended to examine these variables separately or within broader multi-category B2C contexts; studies focusing on all three within a single-platform MSME setting remain relatively scarce. A quantitative approach was used, with data collected via structured Likert-scale questionnaires from 101 purposively sampled respondents who had made repeat purchases at Bersamastore more than twice in the preceding year. Multiple linear regression was applied for analysis. The majority of respondents were female (58.4%), aged 22–26 years (40.6%), and employed in the private sector (41.6%). Results indicate that advertising promotion (β = 0.467, t = 5.216, p < 0.001), price sensitivity (β = 0.284, t = 3.723, p < 0.001), and brand image (β = 0.225, t = 3.262, p = 0.002) each show a significant positive effect on purchase decisions. Together, the three variables account for 80.2% of the variance in purchase decisions (Adjusted R² = 0.802, F = 135.958, p < 0.001). The Glejser test confirmed no heteroscedasticity across predictors. A Harman single factor test yielded a first-factor variance of 55.54%, which exceeds the conventional 50% threshold and is acknowledged as a study limitation. Advertising promotion emerged as the strongest predictor. The findings carry practical implications for single-platform fashion MSMEs, particularly in allocating promotional resources and building brand recognition within competitive marketplace environments.