A. Burchanuddin
Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bosowa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relasi Kuasa Korporasi Terhadap Petani Sawit : Studi Kasus PT. Surya Raya Lestari II Di Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah Juhi Cawula; Andi Rusdi Maidin; A. Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6883

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan relasi kuasa antara korporasi perkebunan dan petani kelapa sawit plasma yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan serta kemandirian petani. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bentuk relasi kuasa yang dibangun PT. Surya Raya Lestari II dengan petani plasma di Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong, serta dampaknya terhadap aspek sosial-ekonomi petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan yang terdiri dari petani plasma, karyawan perusahaan, dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan inti-plasma berjalan dalam bingkai saling menguntungkan, di mana petani menyediakan lahan dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan memberikan sarana produksi, pendampingan teknis, dan jaminan pasar. Namun, perusahaan memegang dominasi dalam penguasaan pengetahuan teknis, penetapan standar produksi, dan mekanisme pengawasan, yang membatasi daya tawar petani, khususnya pada penentuan harga Tandan Buah Segar (TBS). Kesimpulan penelitian menegaskan adanya keterikatan yang memperkuat posisi dominan perusahaan, meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Rekomendasi diarahkan pada penguatan kelembagaan petani dan diversifikasi akses pasar untuk menciptakan kemitraan yang lebih setara dan berkelanjutan Welfare and independence. The objective of this study is to analyze the form of power relations established by PT. Surya Raya Lestari II with plasma farmers in Babana Village, Budong-Budong District, and its impact on the farmers' socio-economic conditions. This research employs a descriptive qualitative method, using observation, in-depth interviews, and documentation, with informants comprising plasma farmers, company employees, and community leaders. The findings indicate that the nucleus-plasma partnership operates within a mutually beneficial framework, in which farmers provide land and labor. At the same time, the company supplies production facilities, technical assistance, and market guarantees. However, the company holds dominance in controlling technical knowledge, setting production standards, and implementing monitoring mechanisms, which limit farmers' bargaining power, particularly in determining the price of Fresh Fruit Bunches (FFB). The study concludes that a structural dependency reinforces the company's dominant position, despite providing economic benefits to farmers. The recommendations focus on strengthening farmers' institutions and diversifying market access to create a more equitable and sustainable partnership.
Perilaku Sosial Masyarakat Dalam Tradisi Sabung Ayam Di Toraja Utara Mona Pangloli; Nurmi Nonci; A. Burchanuddin
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku sosial masyarakat dalam tradisi sabung ayam di Kabupaten Toraja Utara. Tradisi ini tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan religius yang masih melekat kuat di tengah kehidupan masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara, serta dokumentasi guna memperoleh data yang mendalam mengenai pandangan masyarakat terhadap praktik sabung ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabung ayam dipahami bukan sekadar permainan, melainkan sarana interaksi sosial, media ritual adat, serta simbol solidaritas dan status sosial. Masyarakat Toraja Utara menilai bahwa praktik ini telah menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Namun, tradisi tersebut juga menimbulkan perdebatan, terutama terkait aspek hukum dan pandangan moral yang berkembang di luar daerah. Kesimpulannya, sabung ayam bagi masyarakat Toraja Utara merupakan fenomena sosial-budaya yang tidak dapat dilepaskan dari nilai adat, meskipun dalam konteks modern menghadapi tantangan regulasi dan perubahan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas mengenai dinamika budaya lokal serta menjadi referensi dalam menjaga warisan budaya agar tetap selaras dengan perkembangan zaman. This research explores the social behavior of the community in the tradition of cockfighting in North Toraja Regency. The practice is not only considered a form of entertainment but also carries deep social, cultural, and religious values that remain strongly embedded in local life. The study applied a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation to gain an in-depth understanding of community perspectives toward cockfighting. The findings reveal that cockfighting is perceived not merely as a game but as a medium of social interaction, a component of ritual ceremonies, and a symbol of solidarity and social status. For the Toraja people, this tradition has become part of their cultural identity, passed down across generations. Nevertheless, the practice also raises debates, particularly concerning legal restrictions and moral views outside the local context. In conclusion, cockfighting in North Toraja represents a socio-cultural phenomenon inseparable from customary values, even though in the modern era it encounters challenges from state regulations and ongoing social change. This study is expected to provide broader insights into local cultural dynamics and serve as a reference for preserving cultural heritage while adapting to contemporary developments.