Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Amenore Sekunder Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Angkatan 2022 Universitas Prima Indonesia Revalina Br Sembiring; Tri Lidya Anggraini; Adi Soekardi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8969

Abstract

Amenore sekunder adalah tidak adanya menstruasi selama tiga bulan atau enam bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya telah mengalami menstruasi. Salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian ini, khususnya pada mahasiswi, adalah stres. Beban akademik, sosial, dan tuntutan lingkungan disekitarnya dapat mengganggu fungsi aksis hipotalamus-pituitari-ovarium (HPO) yang mengatur siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah mahasiswi di Universitas Prima Indonesia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan total sampel sebanyak 101 orang. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS 42, sementara kejadian amenore sekunder ditentukan berdasarkan riwayat menstruasi mahasiswi. Analisis data menggunakan uji statistik spearman rho untuk menguji hubungan antara dua variabel, dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi memiliki tingkat stres tidak stres dan sebagian kecil mengalami amenore sekunder. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder (p-value = <0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi. Peningkatan tingkat stres berpotensi menjadi faktor pemicu gangguan siklus menstruasi.
Gambaran Radiologi Toraks Pada Pasien TB Paru Atipikal dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Status Kontrol Glikemik dan Indeks Massa Tubuh di RSU Royal Prima T Abelio Simbolon; Adi Soekardi; Qori Fadillah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.27214

Abstract

ABSTRACT Due to compromised immunological responses brought on by hyperglycemia, type 2 diabetes mellitus (DM) impairs radiological manifestations and increases the risk of pulmonary tuberculosis (TB). Patients with type 2 diabetes who have atypical pulmonary TB often show lower zone/lower lobe involvement and more extensive lesions on chest radiography. Although there is currently little evidence in Indonesia, it is believed that body mass index (BMI) influences radiological features in addition to glycemic control. This study looked at the radiographic features of the chest in patients with atypical pulmonary tuberculosis and type 2 diabetes at Royal Prima Medan General Hospital based on their body mass index and glycemic control status. Research Methods: This observational analytical study with a retrospective cross-sectional design analyzed the medical records of 120 atypical pulmonary tuberculosis patients with type 2 diabetes who received treatment at Royal Prima Medan General Hospital between January 2024 and December 2025. The sample was selected using a comprehensive sampling strategy. For both univariate and bivariate data analysis, Fisher's Exact Test, Chi-square test, and Independent Samples t-test were employed, with a significance level of p0.05. Results: Most patients had uncontrolled glycemic control (58.3%), lower zone/lower lobe involvement (51.7%), and multilobar lesions (61.7%). Glycemic control level was substantially associated with lung lesion size (p0.001) and lower zone/lower lobe involvement (p0.001). Furthermore, there was a significant correlation between BMI category and lung lesion size (p=0.002) and lower zone/lower lobe involvement (p=0.010). Age and gender did not significantly correlate with either radiological result (p0.05). Conclusion: Chest radiographic features were associated with BMI category and glucose control level in atypical pulmonary TB patients with type 2 diabetes, but not with age or gender.  Keywords: Atypical Pulmonary Tuberculosis, Type 2 Diabetes Mellitus, Chest Radiography, Glycemic Control, Body Mass Index.  ABSTRAK Akibat terganggunya respons imunologis yang disebabkan oleh hiperglikemia, diabetes melitus tipe 2 (DM) mengganggu manifestasi radiologis dan meningkatkan risiko tuberkulosis paru (TB). Pasien dengan diabetes tipe 2 yang menderita TB paru atipikal sering menunjukkan keterlibatan zona bawah/lobus bawah dan lesi yang lebih luas pada radiografi dada. Meskipun saat ini masih sedikit bukti di Indonesia, diyakini bahwa indeks massa tubuh (BMI) memengaruhi gambaran radiologis selain kontrol glikemik. Studi ini meneliti gambaran radiografi dada pada pasien dengan tuberkulosis paru atipikal dan diabetes tipe 2 di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan indeks massa tubuh dan status kontrol glikemik mereka. Metode Penelitian: Studi observasional analitik dengan desain retrospektif cross-sectional ini menganalisis rekam medis 120 pasien tuberkulosis paru atipikal dengan diabetes tipe 2 yang menerima perawatan di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan antara Januari 2024 dan Desember 2025. Sampel dipilih menggunakan strategi pengambilan sampel komprehensif. Untuk analisis data univariat dan bivariat, digunakan Uji Eksak Fisher, uji Chi-square, dan uji t Sampel Independen, dengan tingkat signifikansi p0,05. Hasil: Sebagian besar pasien memiliki kontrol glikemik yang tidak terkontrol (58,3%), keterlibatan zona bawah/lobus bawah (51,7%), dan lesi multilobar (61,7%). Tingkat kontrol glikemik secara substansial terkait dengan ukuran lesi paru (p0,001) dan keterlibatan zona bawah/lobus bawah (p0,001). Selanjutnya, terdapat korelasi signifikan antara kategori BMI dan ukuran lesi paru (p=0,002) dan keterlibatan zona bawah/lobus bawah (p=0,010). Usia dan jenis kelamin tidak berkorelasi signifikan dengan hasil radiologis (p0,05). Kesimpulan: Gambaran radiografi dada berhubungan dengan kategori BMI dan tingkat kontrol glukosa pada pasien TB paru atipikal dengan diabetes tipe 2, tetapi tidak dengan usia atau jenis kelamin.  Kata Kunci: TB Paru Atipikal, Diabetes Melitus Tipe 2, Radiologi Toraks, Kontrol Glikemik, Indeks Massa Tubuh.
Level of Knowledge Among UNPRI Medical Students Regarding the Dangers of X-Ray Radiation and the Risk of Anemia Adi Soekardi; Ratu Clara Hasibuan; Masdalena Nasution
Advances In Social Humanities Research Vol. 4 No. 8 (2026): Advances In Social Humanities Research
Publisher : Sahabat Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/adv.v4i8.623

Abstract

X-ray radiation is a form of ionizing radiation widely used in medical services; however, uncontrolled exposure may produce biological effects on radiosensitive tissues, including the hematopoietic system. Medical students, as future healthcare professionals, require adequate knowledge of radiation hazards and their potential association with anemia risk. This study aimed to determine the knowledge level of 2023 medical students at Universitas Prima Indonesia (FK UNPRI) regarding the hazards of X-ray radiation and anemia risk, identify factors associated with knowledge levels, and analyze the relationship between knowledge of X-ray radiation and knowledge of anemia risk. An analytical quantitative cross-sectional design was employed. A total of 159 students were recruited using total sampling. Data were collected using a 25-item closed-ended multiple-choice questionnaire and analyzed using univariate analysis, the Chi-Square test, and Spearman’s rho correlation analysis. Most students demonstrated a good overall knowledge level, with 73 respondents (45.9%) categorized as having good knowledge, 44 respondents (27.7%) having sufficient knowledge, and 42 respondents (26.4%) having poor knowledge. Attendance at radiology lectures and experience in radiology practice were significantly associated with knowledge level (both p < 0.001), whereas age (p = 0.754) and sex (p = 0.165) were not significantly associated. A strong and significant positive correlation was identified between knowledge of X-ray radiation and knowledge of anemia risk (r = 0.698; p < 0.001). This study evaluated students’ knowledge and understanding rather than actual radiation exposure, hemoglobin levels, or clinical anemia status. In conclusion, students generally demonstrated good knowledge; however, understanding of anemia risk should be further strengthened through structured radiation safety education and practical training.