Perkembangan teknologi informasi dan ketersediaan data yang semakin melimpah menuntut peserta didik memiliki kemampuan pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). Namun, pada tingkat sekolah menengah, proses pengambilan keputusan siswa masih cenderung bersifat intuitif dan subjektif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menumbuhkan budaya pengambilan keputusan berbasis data adalah melalui pelatihan Sistem Pendukung Keputusan (SPK). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan SPK terhadap pembentukan budaya pengambilan keputusan berbasis data pada siswa SMA YASPI Labuhan Deli Medan. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan experiential learning dengan desain one group pretest–posttest. Peserta kegiatan berjumlah 20 siswa kelas XI SMA YASPI Labuhan Deli Medan. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dan mencakup pengenalan konsep SPK, penerapan metode TOPSIS, serta praktik penggunaan spreadsheet melalui studi kasus kontekstual di lingkungan sekolah. Instrumen evaluasi meliputi tes pemahaman (pretest dan posttest), kuesioner sikap pengambilan keputusan berbasis data, lembar observasi aktivitas siswa, serta refleksi tertulis. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek kognitif siswa, ditandai dengan kenaikan skor rata-rata dari 41% pada pretest menjadi 74% pada posttest. Selain itu, sebanyak 85% siswa menunjukkan sikap positif terhadap penggunaan data dan kriteria objektif dalam pengambilan keputusan. Hasil observasi juga mengindikasikan bahwa siswa mampu menerapkan pendekatan berbasis data secara aktif dalam diskusi dan proyek kelompok. Refleksi siswa memperlihatkan adanya perubahan pola pikir dan kesadaran akan pentingnya data dalam menentukan pilihan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelatihan SPK efektif dalam menumbuhkan budaya pengambilan keputusan berbasis data pada siswa SMA. Kegiatan ini berpotensi direplikasi di sekolah lain sebagai model penguatan literasi data dan keterampilan berpikir kritis di tingkat pendidikan menengah.