Siti Juariah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon, Cirebon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Genitourinary Syndrome of Menopause dan Kualitas Hidup Perempuan Lanjut Usia: Systematic Literature Review Perly Otis Putri Oktaviani; Siti Juariah
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1588

Abstract

Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM) merupakan kumpulan gejala urogenital akibat penurunan hormon estrogen pada perempuan pascamenopause dan dapat menetap hingga usia lanjut. Kondisi ini sering tidak terdiagnosis meskipun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup perempuan lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis bukti ilmiah mengenai hubungan antara GSM dan kualitas hidup perempuan lanjut usia pascamenopause. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data internasional bereputasi dengan kriteria artikel terindeks Scopus kuartil Q1–Q3 dan jurnal nasional terakreditasi, diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif melalui sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa GSM berhubungan erat dengan penurunan kualitas hidup, terutama pada domain fisik seperti nyeri dan ketidaknyamanan urogenital, domain psikologis seperti kecemasan dan penurunan kepercayaan diri, serta domain sosial dan seksual yang ditandai dengan gangguan relasi intim dan kecenderungan menarik diri dari pasangan. Selain itu, GSM sering tidak dilaporkan secara aktif oleh perempuan lanjut usia karena dianggap bagian normal dari penuaan. Simpulan kajian ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran, skrining dini, dan penatalaksanaan GSM yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan lansia pascamenopause.
Biofeedback Device sebagai Adjuvan Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) untuk Stress Urinary Incontinence pada Ibu Postpartum: Systematic Literature Review Siti Juariah; Pearly Otis Putri Oktaviani
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1590

Abstract

Stress urinary incontinence (SUI) merupakan keluhan yang sering dialami ibu postpartum terutama pada masa nifas dini (0–6 minggu). Pelvic floor muscle training (PFMT) menjadi terapi konservatif lini pertama, namun keberhasilannya dipengaruhi oleh teknik kontraksi yang tepat dan kepatuhan latihan. Biofeedback device dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk membantu meningkatkan efektivitas PFMT melalui umpan balik real-time. Systematic literature review ini bertujuan mengevaluasi efektivitas biofeedback device sebagai adjuvan PFMT dibanding PFMT standar dalam menurunkan gejala SUI pada ibu postpartum masa nifas dini. Review dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 melalui penelusuran literatur open-access terindeks Scopus dan Garuda pada rentang tahun 2020–2025. Sebanyak 25 artikel awal diidentifikasi, dan setelah proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh 8 artikel utama yang dianalisis dalam review ini, terdiri dari randomized controlled trial, quasi-experimental study, meta-analysis, serta systematic review postpartum. Temuan menunjukkan bahwa biofeedback berbasis tekanan (pressure-mediated biofeedback) merupakan jenis yang paling konsisten memberikan perbaikan terhadap gejala SUI dibanding PFMT tanpa biofeedback. Sebaliknya, EMG-biofeedback pada nifas sangat dini menunjukkan hasil yang lebih bervariasi karena heterogenitas protokol latihan dan outcome yang dinilai. Secara keseluruhan, biofeedback device terutama pressure-based biofeedback cenderung memberikan hasil lebih baik dibanding PFMT saja dalam mengurangi gejala SUI postpartum. Namun, bukti khusus pada periode nifas dini masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih terstandar.