Anton Prayitno
Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Wisnuwardhana Malang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN KONTROVERSIAL MATEMATIS GEOMETRI Antriyanti Mone Kaka; Anton Prayitno; Febi Dwi Widayanti
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v4i4.11705

Abstract

This research aims to describe students' creative thinking processes in solving controversial mathematical problems. The research approach used is a qualitative approach. The research subjects were 25 students taken from class X TKJ and TG SMK PU Malang. The instruments used were tests, interviews and documentation. The research instrument consisted of 1 controversial mathematical problem on geometry material prepared by the researcher. The results of this research show that the 4 stages of students' creative thinking process when solving controversial mathematical problems include: preparation stage, illumination stage, incubation stage and verification stage. In the preparation stage the subject is able to solve problems by discussing with his classmates, then in the incubation stage the subject involves considering and developing a project by letting creative ideas flow and exchanging ideas about the various directions the project will take. And at the illumination stage the subject also begins to emerge new inspirations/ideas for solving the problem. Then at this illumination stage the subject also begins to emerge new inspirations/ideas for solving the problem. Next, at this Verification stage, the subject checks again, which can be done by interpreting the answers obtained. Overall, this research shows that class X students at SMK PU Malang have great potential in thinking creatively when solving controversial mathematical geometry problems. To optimize this potential, a supportive learning approach is needed, including providing space for students to develop their creative ideas, facilitating collaboration and discussion between students, as well as paying attention to factors that can hinder students' creative thinking processes. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan permasalahan kontroversial matematis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Subjek penelitian berjumlah 25 siswa yang terambil dari kelas X TKJ dan TG SMK PU Malang. Instrumen yang digunakan adalah tes, wawancara dan dokumentasi, instrumen penelitian terdiri dari 1 permasalahan kontroversial matematis pada materi geometri yang disusun peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 4 tahapan proses berpikir kreatif siswa ketika menyelesaikan permasalahan kontroversial matematis meliputi : tahap persiapan, tahap iluminasi, tahap inkubasi dan tahap verifikasi. Pada tahap persiapan subjek mampu memecahkan masalah dengan berdiskusi teman sebangkunya, kemudian pada tahap inkubasi subjek melibatkan pertimbangan dan pengembangan sebuah proyek dengan membiarkan ide-ide kreatif mengalir dan bertukar pikiran tentang berbagai arah yang akan diambil oleh proyek tersebut. Dan pada tahap  iluminasi subjek juga mulai muncul inspirasi/gagasan baru dalam menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian pada tahap iluminasi ini subjek juga mulai muncul inspirasi/gagasan baru dalam menyelesaikan masalah tersebut. Selanjutnya pada tahap Verifikasi ini, subjek memeriksa kembali di antaranya dapat dilakukan dengan cara menginterpretasikan jawaban yang diperoleh. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas X SMK PU Malang memiliki potensi besar dalam berpikir kreatif saat memecahkan masalah kontroversial matematis geometri. Untuk mengoptimalkan potensi ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mendukung, termasuk pemberian ruang bagi siswa untuk mengembangkan ide-ide kreatif mereka, fasilitasi kolaborasi dan diskusi antar siswa, serta perhatian terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat proses berpikir kreatif siswa.