Achmad Arifulin Nuha
Universitas Islam Syarifuddin, Lumajang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Konvergensi Media Sosial dalam Memperluas Jangkauan Pendengar Radio Lokal dan Mengoptimalkan Pesan Dakwah Achmad Arifulin Nuha; Lulu Roudlotunisa; Faiqoh Rohmiyati
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3832

Abstract

Perkembangan pesat teknologi digital telah secara signifikan mengubah lanskap komunikasi massa, sehingga mendorong media tradisional seperti radio untuk beradaptasi dengan logika platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial dalam memperluas jangkauan pendengar serta memperkuat interaksi antara penyiar dan audiens di Radio Gloria Paramitha FM Lumajang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini mengkaji bagaimana platform media sosial, khususnya Instagram dan Facebook, berfungsi sebagai instrumen konvergensi media dalam penyiaran radio lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan strategis tidak hanya sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai ruang komunikasi interaktif yang memungkinkan terjadinya keterlibatan dua arah antara penyiar dan pendengar. Fitur-fitur seperti siaran langsung, kolom komentar, dan pesan langsung memfasilitasi komunikasi partisipatif, yang menandai pergeseran dari komunikasi massa yang bersifat linear menuju model komunikasi yang interaktif dan berjejaring. Dalam konteks dakwah Islam, konvergensi media sosial memungkinkan pesan-pesan dakwah yang disiarkan melalui radio menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam tanpa dibatasi oleh ruang geografis. Selain itu, platform digital interaktif mendorong penyampaian pesan dakwah yang lebih dialogis, kontekstual, dan berorientasi pada audiens, sehingga meningkatkan daya persuasi dan fungsi edukatif dakwah. Namun demikian, efektivitas pemanfaatan media sosial masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, pengelolaan konten yang belum konsisten, serta belum adanya strategi desain komunikasi visual yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konvergensi media sosial telah menjadi strategi penting dalam menjaga relevansi radio lokal di era digital. Sebuah model strategi komunikasi integratif diajukan untuk mengoptimalkan keterlibatan audiens, memperkuat identitas kelembagaan radio lokal, sekaligus memaksimalkan penyebaran dan efektivitas pesan dakwah di tengah arus konvergensi media yang terus berlangsung.
Dakwah di Era Algoritmik: Peluang, Risiko, dan Model Tata Kelola Artificial Intelligence Berbasis Otoritas Keilmuan Islam Achmad Arifulin Nuha; Harry Purwanto
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4048

Abstract

Abstract Artificial intelligence (AI) has shifted digital da'wah from technology-mediated religious communication toward an ecosystem in which content production, curation, personalization, distribution, and interaction are increasingly shaped by algorithms. This study systematically reviews a researcher-provided corpus of 100 publication records on da'wah and AI published between 2019 and 2026. Metadata auditing and title normalization identified five duplicate records, leaving 95 unique publications for substantive synthesis. The review applied descriptive mapping and thematic coding across research focus, methodological approach, AI application, claimed benefits, ethical risks, and governance recommendations. Six thematic clusters emerged: strategy and management; content production and interaction; education and AI literacy; religious authority and fatwa; ethics and information integrity; and regulation and multi-stakeholder governance. The literature indicates that AI can expand reach, accelerate content production, support audience analysis, personalization, accessibility, and knowledge retrieval. However, the same affordances generate risks of hallucinated religious information, fabricated hadith, algorithmic bias, privacy violations, echo chambers, deepfakes, dehumanization, and displacement of scholarly authority. The evidence base remains dominated by conceptual, normative, and qualitative studies, with limited empirical measurement of effects on religious understanding, trust, attitudes, and practice. Based on the synthesis, this study proposes the TAHQIQ-AI governance model, which places AI as a support system rather than an autonomous religious authority and requires source verification, competent human oversight, bias and quality auditing, data integrity, responsible interaction, and institutional accountability. Keywords: artificial intelligence; algorithmic da'wah; religious authority; responsible AI; systematic literature review