This study aims to formulate an integrative practical theology model for nurturing youth spirituality in the Society 5.0 era through the “from pulpit to life” approach. The expansion of digital spaces has transformed patterns of religious communication, shifting spiritual formation beyond liturgical preaching into complex digital and social ecosystems. This research employs a qualitative-descriptive approach based on theological literature study, analyzing scholarly publications indexed in Scopus and SINTA related to youth spirituality, digital transformation, and lived faith practices. The findings indicate that the decline in youth spiritual depth is not primarily caused by technological development but by the lack of integration between theological proclamation, communal spiritual formation, and social praxis. Therefore, an integrative practical theology model that combines contextual preaching, relational spiritual mentoring, and youth social engagement offers a strategic framework for developing reflective, participatory, and transformative spirituality in the digital age. Penelitian ini bertujuan merumuskan model teologi praktis integratif bagi pembentukan spiritualitas generasi muda pada era Society 5.0 melalui pendekatan “dari mimbar ke kehidupan”. Perkembangan ruang digital telah mengubah pola komunikasi religius, sehingga pembinaan iman tidak lagi terbatas pada khotbah liturgis, tetapi berlangsung dalam ekosistem digital dan sosial yang kompleks. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi literatur teologi praktis dengan menganalisis publikasi ilmiah terindeks Scopus dan SINTA yang relevan dengan spiritualitas generasi muda, transformasi digital, dan praksis iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kedalaman spiritualitas generasi muda bukan terutama disebabkan oleh teknologi, melainkan oleh kurangnya integrasi antara pewartaan firman, formasi komunitas rohani, dan praksis sosial. Oleh karena itu, model teologi praktis yang mengintegrasikan pewartaan kontekstual, pembinaan rohani relasional, dan keterlibatan sosial generasi muda menjadi pendekatan strategis untuk membangun spiritualitas yang reflektif, partisipatif, dan transformatif di era digital.