Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Rekonstruksi Makna Cinta Dalam Tradisi Sufistik: Pendekatan Semantik Terhadap Teks dan Konteks Muh Al Fadhil Romadhan; Muhammad Amienulazis; Baso Pallawagau
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): December 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i2.8861

Abstract

Cinta (al-ḥubb) dalam tradisi tasawuf yang sering mengalami reduksi dalam pembacaan modern menjadi sekadar emosi atau simbol romantik. Padahal, dalam khazanah sufistik, cinta memiliki dimensi yang lebih luas, mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis. Oleh karena itu, diperlukan upaya rekonstruksi makna cinta yang tidak hanya bertumpu pada analisis leksikal, tetapi juga mempertimbangkan konteks historis dan kultural dari teks-teks sufistik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merekonstruksi makna cinta dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan semantik yang integratif antara teks dan konteks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan semantik dan analisis teks (textual analysis). Sumber data utama berupa teks-teks klasik sufistik seperti Fuṣūṣ al-Ḥikam, Mathnawi, dan Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Teknik analisis dilakukan melalui identifikasi istilah kunci yang berkaitan dengan konsep cinta, kemudian dianalisis relasi maknanya dalam konteks tekstual dan historis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna cinta dalam tasawuf mengalami transformasi dari dimensi emosional menuju dimensi ontologis sebagai prinsip kosmik yang mendasari keberadaan. Selain itu, cinta juga berfungsi sebagai jalan spiritual yang terstruktur dalam maqāmāt dan aḥwāl, serta memiliki keterkaitan erat dengan konsep ma‘rifah dan fanā’. Analisis kontekstual mengungkap adanya perbedaan ekspresi cinta antara tradisi Arab yang cenderung normatif dan Persia yang lebih simbolik dan puitis. Rekonstruksi makna menunjukkan bahwa cinta dalam tasawuf dapat dipahami sebagai energi ontologis, epistemologi spiritual, dan etika transformatif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa cinta dalam tradisi sufistik bukan sekadar emosi, melainkan struktur makna yang kompleks dan multidimensional yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis secara simultan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan studi tasawuf melalui integrasi pendekatan semantik dan analisis kontekstual, serta membuka peluang bagi kajian lanjutan yang lebih interdisipliner dalam memahami konsep cinta dalam Islam.