Penelitian ini dilatar belakangi oleh problem spiritual masyarakat berupa perasaan jauh dari Tuhan dan kegelisahan akibat doa yang belum terkabul, yang menunjukkan kurangnya pemahaman tentang tauhid dan tawakkal. Melalui pendekatan tasawuf, kajian ini menganalisis penafsiran Al-Naisaburi dalam Ghara’ib al-Qur’an terhadap Q.S. al-Baqarah:186. Tujuannya adalah mengungkap konsep kedekatan hamba-Tuhan dan makna hakiki pengabulan doa untuk menjawab kegersangan spiritual tersebut. Rumusan masalah ini berfokus pada analisis tasawuf terhadap Q.S. Al-Baqarah:186, yang mencakup penafsiran keseluruhan ayat, kedalaman makna "فإنى قريب", serta relasi intrinsik antara konsep kedekatan Ilahi (قريب) dengan respons kewajiban hamba (فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ). Dalam karya tulis ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer yang digunakan adalah kitab Ghara'ib al-Qur'an wa Ragha'ib al-Furqan karya Al-Naisaburi, didukung oleh sumber sekunder berupa jurnal, buku, dan kitab lain yang relevan dengan tafsir sufistik. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menelaah secara mendalam sumber-sumber tersebut, mencatat poin-poin penting, dan mengkontekstualisasikannya. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan mendeskripsikan makna dan mensistematisasikan penafsiran Al-Naisaburi terhadap Q.S. Al-Baqarah ayat 186 dalam bingkai tasawuf. Skripsi ini mengkaji penafsiran Q.S. Al-Baqarah ayat 186 dalam perspektif tafsir sufistik, dengan fokus pada tiga aspek utama. Pertama, konteks keterkaitan ayat dengan pembahasan puasa sebelumnya serta konsep kedekatan Allah (فَإِنِّي قَرِيبٌ) yang bersifat bathiniyyah, menolak pemahaman jasmani atau spatial. Kedua, makna kedekatan Allah dianalisis sebagai hubungan spiritual yang tidak terikat tempat atau arah, melainkan melalui ilmu, kekuasaan, dan rahmat-Nya. Ketiga, penelitian ini menguraikan relasi dialektis antara janji kedekatan Ilahi dengan perintah memenuhi seruan Allah (فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي) yang merefleksikan keseimbangan antara doa, usaha, dan ketaatan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep kedekatan dalam ayat ini menekankan pentingnya adab spiritual dalam berdoa, termasuk keyakinan akan pengabulan sebagai manifestasi keimanan yang utuh.