Nurusshobah Nurusshobah
Universitas Islam Negeri Mataram, Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dehumanisasi dan Krisis Spiritualitas di Media Sosial: Analisis Hermeneutik Surah Al-Ḥujurāt Ayat 11 dalam Tafsir Al-Mishbah M. Rizkhan Arsyi; M. Rama Haqiqi; M. Mubinullah; Nurusshobah Nurusshobah
Peradaban Journal of Religion and Society Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjrs.v5i1.716

Abstract

  This study examines Surah al-Ḥujurāt verse 11 through an analysis of Quraish Shihab’s interpretation in Tafsir al-Mishbah to critically understand the phenomena of dehumanization and the crisis of spirituality in social media. In contrast to previous studies that tend to focus on normative social ethics or thematic analyses without deeply engaging with digital communication practices, this research offers a conceptual enrichment through a hermeneutical approach that connects the textual horizon, the interpretive process, and contemporary digital realities. Employing a qualitative library-based method, the study analyzes the structure of exegetical argumentation and its ethical-spiritual implications for online interaction. The findings indicate that the verse provides a value framework that functions transformatively in shaping social relations, particularly within digital spaces prone to bullying, hate speech, labeling, and polarization. Quraish Shihab’s interpretation emphasizes the importance of self-discipline, moral sensitivity, and public responsibility as guiding principles of communication. The hermeneutical refinement in this study demonstrates an operational linkage between Qur’anic messages and digital phenomena, ensuring that ethical prohibitions do not remain merely normative but serve as critical guidelines for fostering a more humane culture of interaction. The primary contribution of this study lies in formulating a framework of “Qur’anic digital ethics,” which expands the discourse on Islamic digital literacy while offering a conceptual basis for addressing dehumanization and the crisis of spirituality in the era of social media. Studi ini mengkaji Surah al-Ḥujurāt ayat 11 melalui pembacaan atas penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah untuk memahami secara kritis gejala dehumanisasi dan krisis spiritualitas di media sosial. Dibandingkan penelitian sebelumnya yang lebih berhenti pada uraian etika sosial atau analisis tematik tanpa menghubungkannya secara mendalam dengan praktik komunikasi digital, penelitian ini menawarkan pengayaan konseptual melalui pendekatan hermeneutik yang menautkan horizon teks, proses penafsiran, dan realitas digital kontemporer. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis terhadap bangunan argumentasi tafsir serta implikasi etik-spiritualnya bagi interaksi daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut menghadirkan kerangka nilai yang bekerja secara transformatif dalam menata relasi sosial, terutama pada ruang digital yang rentan terhadap praktik perundungan, ujaran kebencian, pelabelan, dan polarisasi. Penafsiran Quraish Shihab menegaskan pentingnya disiplin diri, kepekaan moral, dan tanggung jawab publik sebagai orientasi komunikasi. Penajaman hermeneutik dalam penelitian ini memperlihatkan keterkaitan operasional antara pesan Qur’ani dan fenomena digital, sehingga larangan etis tidak berhenti pada level normatif, tetapi berfungsi sebagai pedoman kritis untuk membangun budaya interaksi yang lebih manusiawi. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada perumusan kerangka “akhlak digital Qur’ani” yang dapat memperluas diskursus literasi digital keislaman sekaligus menawarkan basis konseptual untuk merespons dehumanisasi dan krisis spiritualitas pada era media sosial.
Konstruksi Identitas Manusia dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik terhadap Istilah-Istilah Kunci dan Konteks Sosio-Spiritualnya Farah Haliyon Saniy; Nurusshobah Nurusshobah; Ahmad Khairul Affandi
Peradaban Journal of Religion and Society Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjrs.v4i2.334

Abstract

This study analyzes the construction of human identity in the Qur'an, engaging in a critical dialogue with the Western anthropocentric paradigm. While modern Western thought often positions humanity at the center of reality, reducing it to mere biological and rational dimensions, this research demonstrates how the Qur'an offers a more holistic perspective. Employing a qualitative approach and analytical methods, the study examines key Qur'anic terms for humans: insān, basyar, an-nās, and banī Ādam. The findings reveal that the Qur'an views humans not merely as biological beings, but as rational entities with moral and social responsibilities. The term insān portrays humans as weak and forgetful, basyar emphasizes biological aspects, an-nās signifies social beings, and banī Ādam underscores human dignity and acknowledgment of God. This critique of anthropocentrism is supported by the principles of tawḥīd (unity of creation) and mīzān (balance), asserting that humans are an integral part of the cosmic system. Human identity in the Qur'an is defined by the capacity to fulfill the divine amanah (trust) and maintain ecological harmony ethically, providing a foundation for a more responsible and sustainable self-understanding. Penelitian ini menganalisis konstruksi identitas manusia dalam Al-Qur’an dan menempatkannya dalam dialog kritis dengan paradigma antroposentris Barat. Jika pemikiran Barat modern sering kali menempatkan manusia sebagai pusat realitas dan mereduksinya pada dimensi biologis serta rasional semata, penelitian ini menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menawarkan pandangan yang lebih holistik. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis untuk mengkaji istilah-istilah kunci Al-Qur’an untuk manusia (insān, basyar, an-nās, dan banī Ādam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar menyebut manusia sebagai makhluk biologis, tetapi juga sebagai makhluk berakal yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Istilah insān menggambarkan manusia sebagai makhluk yang lemah dan pelupa, basyar menekankan aspek biologis, an-nās menunjukkan manusia sebagai makhluk sosial, dan banī Ādam menggarisbawahi nilai kemanusiaan serta pengakuan terhadap Tuhan. Kritik ini didukung oleh prinsip tawḥīd (kesatuan ciptaan) dan mīzān (keseimbangan), yang menegaskan bahwa manusia adalah bagian integral dari sistem kosmik. Identitas manusia dalam Al-Qur’an didefinisikan oleh kesanggupan menjalankan amanah Ilahi dan menjaga harmoni ekologis secara etis, memberikan landasan untuk pemahaman diri yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.