Bambang Mudjiyanto
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bung Karno, Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA OPINI PUBLIK, KINERJA PEJABAT, DAN LEGITIMASI AKTOR POLITIK Launa Launa; Nursyams ,; Fit Yanuar; Nur Azizah; Bambang Mudjiyanto
Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62144/jikq.v8i2.754

Abstract

Studi ini bertujuan menganalisis dinamika opini publik terkait statement pejabat publik dan aktor politik di ruang medsos—kendati viralitas opini bisa memicu public distrust. Melalui pendekatan kualitatif, deskriptif, dan interpretif berbasis analisis kritis dan konstruktivis, studi ini berupaya mengeksplor bagaimana opini publik dibentuk, diviralisasi, dan berimplikasi pada kredibilitas diri dan legitimasi institusi. Temuan studi menunjukkan: pergeseran sentimen publik tidak bersifat reaktif, namun konstitutif—aktif mendinamisasi ruang politik publik melalui mobilisasi emosi yang bisa memaksa para elite mengoreksi kebijakan, menarik diri, atau kehilangan dukungan. Ada kesenjangan struktural antara logika teknokratis birokrasi dan harapan publik terkait partisipasi digital, di mana publik menilai opini bukan dari otoritas jabatan, namun dari konsistensi nilai yang dianut, tindakan nyata, dan akuntabilitas narasi. Fenomena ‘Purbaya effect’ menjadi contoh disfungsi elite dalam konstruksi narasi. Tesis ini mengonfirmasi bahwa konstruksi narasi yang eksentrik, jujur, konsisten, dan inklusif—secara moral—cukup efektif untuk merebut kembali public trust di tengah viralitas isu dan polarisasi opini era medsos yang kian konfilktual. Studi ini merekomendasi model ‘legitimasi responsif-deliberatif’ sebagai acuan pejabat dan elite politik untuk membangun kembali kepercayaan publik, sepanjang elite mau mentransformasi kritik publik sebagai wujud atensi dan dialog, bukan diksi ancaman, apalagi frasa hinaan.