Muhammad Abdul Hadi Rabbani
STIKes Muhammadiyah Ciamis

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Evaluasi Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Basil Tahan Asam (BTA) pada Pasien Tuberkulosis Paru Setelah Terapi Bulan Pertama dan Kedua di Puskesmas Sindangkasih Muhammad Abdul Hadi Rabbani; Aldi Febriansyah; Rivana Ariyadi; Undang Ruhimat
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.33533

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat global. Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan beban tuberkulosis dan tuberkulosis resisten obat (TB-RO) tertinggi setelah India. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2023 yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO), diperkirakan terdapat sekitar 1.060.000 kasus TB setiap tahun di Indonesia. Evaluasi keberhasilan terapi tuberkulosis pada fase intensif umumnya dilakukan melalui pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum setelah satu hingga dua bulan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pemeriksaan BTA pada sputum pasien tuberkulosis paru setelah menjalani pengobatan selama satu dan dua bulan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan melibatkan 15 pasien tuberkulosis paru yang menjalani terapi fase intensif. Pemeriksaan sputum dilakukan menggunakan metode pewarnaan Ziehl–Neelsen untuk menentukan hasil Basil Tahan Asam (BTA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 12 pasien (80,0%) telah mengalami konversi BTA menjadi negatif, sedangkan 3 pasien (20,0%) masih menunjukkan hasil BTA positif, yang terdiri atas masing-masing satu pasien dengan hasil scanty, positif (+1), dan positif (+2). Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien telah mencapai konversi BTA negatif selama fase intensif pengobatan, meskipun sebagian kecil pasien masih menunjukkan hasil BTA positif sehingga memerlukan pemantauan lanjutan sesuai dengan program pengobatan tuberkulosis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien tuberkulosis paru telah mencapai konversi BTA negatif setelah menjalani pengobatan selama satu hingga dua bulan, yang menunjukkan keberhasilan respons terapi pada fase intensif.