Baiq Tri Astuti Utami
FakultasEkonomi Dan Bisnis, Universitas Mataram

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Coffeeshop Culture di Mataram: Dampak Kafe Modern terhadap Perubahan Pola Konsumsi Mahasiswa Baiq Tri Astuti Utami; Dina Handika Anugerah; Baiq Maulidna Khaerunnisa; Baiq Zulyadain; Jaka Anggara
Surplus: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sur.v5i1.2209

Abstract

Pesatnya pertumbuhan coffeeshop culture di Kota Mataram mencerminkan pergeseran signifikan dalam perilaku konsumsi mahasiswa yang melampaui sekadar aktivitas makan dan minum, merambah ke pembentukan identitas sosial dan kapitalisme gaya hidup. Penelitian ini mengkaji dinamika fenomena tersebut beserta implikasinya terhadap pola pengeluaran mahasiswa dalam konteks budaya konsumen perkotaan di kota berukuran menengah di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuesioner terbuka, penelitian ini melibatkan empat belas mahasiswa aktif dari empat perguruan tinggi di Mataram yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan kerangka analisis tematik induktif enam fase Braun dan Clarke (2006), menghasilkan delapan tema utama. Temuan menunjukkan bahwa kafe telah berkembang menjadi arena identitas sosial yang multifungsional, ditopang oleh tiga faktor yang saling terkait: ketersediaan infrastruktur fungsional, tekanan kelompok sebaya, dan fear of missing out (FOMO) yang didorong media sosial. Secara penting, dampak finansial dimediasi terutama oleh literasi keuangan individual, bukan oleh frekuensi kunjungan. FOMO pun beroperasi sebagai kontinum, yaitu bukan variabel biner, mulai dari penerimaan tanpa sikap kritis hingga penolakan aktif. Sebanyak 78,6% informan memandang coffeeshop culture sebagai habitus yang telah mengakar, bukan sekadar tren sementara. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur dengan menempatkan fenomena kafe di Mataram dalam kerangka teori medan Bourdieu dan teori konsumsi mencolok Veblen, menghubungkan pola perilaku lokal dengan proses reproduksi kelas dan kapitalisme gaya hidup pada tataran makro di Indonesia.