Nova Gloria Sampingan
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KINERJA BINTARA PEMBINA DESA DALAM MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN DI DESA LAMBARA KECAMATAN TANAMBULAVA KABUPATEN SIGI Nova Gloria Sampingan; Nurziah Nurziah
PATRIOT: Journal of Public Administration and Policy Vol. 2 No. 1 (2026): PATRIOT: Journal of Public Administration and Policy
Publisher : PATRIOT: Journal of Public Administration and Policy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Desa Lambara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan tugasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, sedangkan penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan unsur Koramil, Babinsa, pemerintah desa, BPD, Bhabinkamtibmas, dan Linmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja Babinsa dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat berada pada kategori cukup baik, meskipun belum sepenuhnya optimal. Berdasarkan enam indikator kinerja Bernardin dan Russell, Babinsa menunjukkan kinerja yang baik pada aspek kualitas kerja, ketepatan waktu, dan efektivitas penggunaan sumber daya melalui kemampuan merespons persoalan masyarakat, menjalankan pembinaan wilayah, serta membangun koordinasi dengan pemerintah desa dan unsur masyarakat. Namun, aspek kuantitas kerja, kehadiran, dan dampak interpersonal masih menghadapi beberapa kendala, terutama terkait keterbatasan kehadiran fisik secara rutin akibat adanya tugas kewilayahan lainnya. Faktor pendukung kinerja Babinsa meliputi pemahaman terhadap tugas, kedisiplinan, komitmen kerja, serta dukungan dari pemerintah desa dan masyarakat. Sementara itu, faktor penghambat berasal dari beban tugas tambahan, keterbatasan waktu, serta belum optimalnya intensitas komunikasi langsung dengan seluruh lapisan masyarakat.