Henti jantung mendadak masih menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia dengan angka kelangsungan hidup pasien dengan henti jantung diluar rumah sakit (OHCA) antara 5-10%. Tingkat pertolongan (pemberian CPR) oleh masyarakat awam yang rendah merupakan masalah utama dalam proses penyelamatan. Pelatihan CPR berbasis sekolah merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kasus henti jantung mendadak. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta tentang cara melakukan CPR dan menggunakan Automated External Defibrillator (AED). Kegiatan pelatihan CPR dilaksanakan pada 21–22 Agustus 2024 di SMPN 1 Wagir dengan 100 peserta (81 siswa dan 19 guru). Pelatihan mencakup hands-only CPR, penggunaan AED, praktik manekin, dan metode irama lagu untuk menjaga kualitas kompresi. Evaluasi dilakukan melalui pretest–posttest serta pengumpulan data demografi dan kesediaan bertindak. Mayoritas peserta pelatihan belum pernah belajar maupun melakukan CPR sebelumnya. Rata-rata skor pengetahuan meningkat signifikan dari 67,6 menjadi 85,3 (p=0,000). Setelah pelatihan, 89% peserta bersedia melakukan CPR pada keluarga, 87% pada orang lain, dan 82% menggunakan AED, menunjukkan peningkatan self-efficacy. Metode praktik langsung dengan irama lagu dan dukungan sebaya memperkuat kepercayaan diri peserta. Keterlibatan guru berpotensi memperluas dampak sebagai multiplier dalam membangun kapasitas kesiapsiagaan komunitas sekolah terhadap henti jantung. Selain meningkatkan kapasitas komunitas di sekolah, program ini juga dapat digunakan sebagai model untuk pendidikan tanggap darurat berbasis masyarakat.