Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai estetika sekaligus ekonomi, namun proses pewarnaan masih banyak bergantung pada pewarna sintetis yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Pewarna alami dari limbah organik menawarkan alternatif ramah lingkungan, tetapi metode tradisional ekstraksi yang digunakan UMKM Batik Kehati Desa Wonoasri masih kurang efisien dan menghasilkan warna yang tidak konsisten. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas UMKM dalam memproduksi pewarna alami melalui penerapan mesin ekstraktor SIMUPA yang dirancang untuk mempercepat proses ekstraksi dan menurunkan biaya produksi. Metode kegiatan meliputi survei kebutuhan mitra, perancangan dan pembuatan mesin ekstraktor, pelatihan penggunaan dan perawatan, serta sosialisasi dan pendampingan produksi batik dengan pewarna alami, sedangkan evaluasi dilakukan melalui monitoring fungsi mesin dan pengukuran indikator keberhasilan produksi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mesin SIMUPA mampu menurunkan waktu ekstraksi dari tiga jam menjadi satu jam, meningkatkan kapasitas produksi dari 2 liter menjadi 6 liter per hari, serta menurunkan biaya produksi hingga 40%. Kualitas warna batik alami menjadi lebih konsisten setelah difiksasi, dan masyarakat memperoleh keterampilan baru dalam pengelolaan limbah organik. Selain itu, produk batik alami memiliki nilai tambah dan daya tarik pasar yang lebih tinggi, sehingga memperluas jangkauan pemasaran UMKM. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa SIMUPA terbukti efektif sebagai teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi produksi batik alami sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.