Riyadh Firdaus
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sulit intubasi: Tantangan dan Masa depannya Riyadh Firdaus
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 1 (2024): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i1.397

Abstract

Intubasi merupakan prosedur medis yang umum dijumpai dengan risiko seperti nyeri dan trauma. Sulit intubasi, disebabkan oleh faktor anatomi atau patologis, merupakan tantangan serius dalam praktik klinis. Sulit intubasi dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian. Evaluasi pra-anestesi penting untuk mendeteksi potensi sulit intubasi dengan menggunakan prediktor klinis seperti skor Mallampati dan Cormack-Lehane. Integrasi teknologi medis terkini, seperti video laringoskop, dapat meningkatkan keberhasilan dan keamanan prosedur. Namun, pemilihan alat harus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pengembangan metode baru, seperti penggunaan 3D imaging, sedang diteliti untuk meningkatkan pemahaman dan penanganan sulit intubasi.
Menyeimbangkan Efisiensi dan Keselamatan: Re-evaluasi Intubasi Tanpa Pelumpuh Otot pada Operasi Berdurasi Singkat Riyadh Firdaus
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.528

Abstract

Praktik anestesi modern dituntut untuk mempercepat alur kerja kamar operasi pada prosedur singkat seperti ekstraksi gigi impaksi. Penggunaan rutin pelumpuh otot berisiko menunda pemulihan akibat efek sisa blokade neuromuskular, sementara alternatif seperti sugammadex terkendala biaya. Sebagai solusi, kombinasi propofol dan remifentanil tanpa pelumpuh otot mulai dieksplorasi. Evaluasi ini mengulas bukti klinis dari studi retrospektif terhadap 43 pasien yang menjalani prosedur pencabutan gigi. Kombinasi remifentanil (rerata 3,08 µg/kg) dan propofol (2,06 mg/kg) memberikan kondisi intubasi adekuat dengan durasi emergence yang sangat cepat, yaitu rerata 5,88 menit. Sebanyak 65,1% subjek melewati fase pasca-intubasi tanpa komplikasi berarti. Meski efisien, teknik ini mengorbankan stabilitas hemodinamik; tercatat adanya penurunan denyut jantung sebesar 16%, tekanan darah sistolik 20%, dan diastolik 26%. Selain itu, ditemukan insiden batuk atau pergerakan tubuh pasien sebesar 27,9%. Intubasi tanpa pelumpuh otot merupakan opsi yang logis, praktis, dan efisien untuk pasien muda berisiko rendah (ASA I atau II) pada operasi minor singkat. Namun, klinisi harus tetap berhati-hati karena risiko kolaps hemodinamik tetap mengintai. Bagi populasi rentan seperti pasien geriatri, obesitas morbid, atau dengan penyulit vaskular, penggunaan pelumpuh otot berdurasi singkat tetap menjadi pilihan paling aman demi menjaga keselamatan pasien.