Cynthia Dewi Sinardja
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana - RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Erector Spinae Plane Block (ESPB) pada pasien Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) dengan Komorbiditas Erwinsyah; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa; Cynthia Dewi Sinardja
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.478

Abstract

Pendahuluan : Penggunaan erector spinae plane block (ESPB) sebagai bagian dari analgesia multimodal pada pasien berisiko tinggi yang menjalani minimally invasive cardiac surgery (MICS) masih jarang dilaporkan. Bukti mengenai keamanan dan efektivitas ESPB pada pasien geriatri dengan komorbiditas kompleks, termasuk penyakit arteri koroner tiga pembuluh, diabetes melitus tipe 2, dan acute kidney injury (AKI), masih terbatas. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti peran ESPB sebagai teknik analgesia regional pada kelompok pasien tersebut. Deskripsi kasus : Laki-laki berusia 76 tahun datang dengan keluhan nyeri dada hilang timbul selama satu tahun. Pemeriksaan angiografi koroner menunjukkan stenosis berat pada left main, left anterior descending, dan right coronary artery, serta oklusi total pada left circumflex artery, sehingga ditegakkan diagnosis penyakit arteri koroner tiga pembuluh dengan keterlibatan left main. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 selama lebih dari 25 tahun, disertai gangguan fungsi ginjal dengan kreatinin serum 1,87 mg/dL dan estimasi laju filtrasi glomerulus 34,15 mL/menit/1,73 m². Pasien menjalani MICS-CABG dua graft. Anestesi umum dilakukan menggunakan double-lumen tube sisi kiri, didahului dengan ESPB unilateral pada tingkat torakal T4–T5 dengan panduan ultrasonografi. Pascaoperasi, pasien dirawat di unit perawatan intensif dengan durasi ventilasi mekanik kurang dari enam jam dan memperoleh analgesia berupa morfin infus kontinu serta parasetamol intravena. Penilaian nyeri menunjukkan skor behavioral pain scale (BPS) 3/12 sebelum ekstubasi dan numeric rating scale (NRS) 0–1/10 dua jam setelah ekstubasi, tanpa gangguan respirasi maupun hemodinamik bermakna. Simpulan : ESPB merupakan teknik analgesia regional yang aman dan efektif pada pasien geriatri dengan komorbid yang menjalani MICS serta berpotensi menurunkan kebutuhan opioid dan mempercepat pemulihan pascaoperasi.