Effective church ministry requires innovation, particularly in the area of administration, which often poses a major obstacle to the development of ministry. Many churches, including the Indonesian Bible Christian Church (GKAI) in West Kalimantan, face challenges in administrative management due to limited resources, a lack of openness to technological developments, and a low interest in learning. This study aims to examine the importance of church administrative innovation as an effort to transform ministry so that it becomes more structured and relevant to the needs of the times. The method used is a descriptive qualitative approach with observation and documentation study. It is concluded that innovation and transformation are two complementary concepts in strengthening church ministry amid digital dynamics. Administrative innovation has proven to be a driving force for change through more structured, transparent, and efficient information management. The findings also confirm that GKAI West Kalimantan faces significant challenges in the form of limited digital literacy, uneven infrastructure, and resistance to renewal. Nevertheless, the application of modern technology-based administration has paved the way for more adaptive, inclusive, and sustainable services.AbstrakPelayanan gereja yang efektif menuntut adanya inovasi, khususnya dalam bidang administrasi yang seringkali menjadi kendala utama dalam perkembangan pelayanan. Banyak gereja, termasuk Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI) di Kalimantan Barat, menghadapi tantangan dalam penatalayanan administrasi akibat keterbatasan sumber daya, kurangnya keterbukaan terhadap perkembangan teknologi, dan rendahnya minat untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya inovasi administrasi gereja sebagai upaya transformasi pelayanan agar menjadi lebih terstruktur dan relevan dengan kebutuhan zaman. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi dan studi dokumentasi disimpulkan bahwa inovasi dan transformasi merupakan dua konsep yang saling melengkapi dalam memperkuat pelayanan gereja di tengah dinamika digital. Inovasi administrasi terbukti menjadi motor penggerak perubahan melalui pengelolaan informasi yang lebih terstruktur, transparan, dan efisien. Temuan juga menegaskan bahwa GKAI Kalimantan Barat menghadapi tantangan signifikan berupa keterbatasan literasi digital, infrastruktur yang belum merata, dan resistensi terhadap pembaruan. Meskipun demikian, penerapan administrasi modern berbasis teknologi mampu membuka jalan bagi pelayanan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.