Titus Tunggul Simbolon
Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Pendidikan Agama Kristen Inklusif Untuk Anak Usia Dini: Menghargai Keberagaman Dan Mendorong Toleransi Edwin Goklas Silalahi; Titus Tunggul Simbolon; Velino Siahaan; Xaves Hendrik
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.398

Abstract

Christian religious education in Indonesia plays a significant role in shaping children's character and spiritual values from an early age. However, in an increasingly diverse society, Christian religious education faces major challenges in adopting an inclusive approach. This article explores how inclusive Christian religious education for early childhood can promote respect for diversity and encourage tolerance. Through a literature review, this study identifies key principles that can be applied to the Christian religious education curriculum to foster mutual respect and facilitate interfaith dialogue. It also examines the challenges of implementing inclusive Christian education and explores possible solutions. The findings suggest that Christian Religious Education (CRE) should be delivered in an inclusive manner—teaching the love of Christ while nurturing openness toward differences. These values are integrated into the curriculum through learning objectives that emphasize love and respect for others, materials that include Bible stories highlighting love and acceptance, and assessments that evaluate children’s tolerance in daily interactions. Respect for diversity is consistently instilled through the habituation of respectful behavior, the use of relevant Bible stories, and classroom activities that promote cooperation and empathy. One example of such practice is the “Circle of Love” method, in which children are encouraged to say one positive thing about a friend each week. This activity helps nurture respect and love amidst differences.AbstrakPendidikan agama Kristen di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual khususnya bagi anak sejak usia dini. Namun di tengah masyarakat yang semakin beragam, pendidikan agama Kristen menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan pendekatan yang inklusif. Artikel ini membahas bagaimana pendidikan agama Kristen inklusif untuk anak usia dini dapat mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman dan mendorong toleransi. Melalui tinjauan pustaka, penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan agama Kristen untuk memupuk sikap saling menghormati dan menciptakan dialog antar umat beragama, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan agama Kristen yang inklusif serta solusi yang dapat diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAK harus disampaikan secara inklusif mengajarkan kasih Kristus sekaligus membentuk sikap terbuka terhadap perbedaan. Nilai-nilai diintegrasikan ke dalam kurikulum, melalui: Tujuan pembelajaran yang menekankan cinta kasih dan sikap menghormati sesama, materi yang mencakup cerita-cerita Alkitab tentang kasih dan penerimaan, dan evaluasi yang menilai sikap toleran anak dalam praktek sehari-hari. Penghargaan terhadap perbedaan ditanamkan secara konsisten melalui: Pembiasaan sikap saling menghargai berupa, cerita Alkitab yang relevan, kegiatan kelas yang melibatkan kerja sama dan empati. Contoh praktik di kelas menggunakan metode “Lingkaran Kasih”: anak-anak menyebutkan satu kebaikan dari temannya setiap minggu. Kegiatan ini menumbuhkan rasa hormat dan kasih dalam perbedaan.
Melampaui Transmisi: Konstruksi Teologi Komunikasi Pesan Religius di Era Digital Titus Tunggul Simbolon; Jessica Caroline Charis
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 10 No 1: Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v10i1.597

Abstract

The rapid development of the digital era over the last two decades demands a fresh reading of how religious messages are produced, distributed, and interpreted by modern society. This shift marks a transition from a linear, technical model of information transmission toward a more relational praxis of faith communion. This article examines communication theology as an analytical framework for understanding the complexity of religious messages within open, algorithmic digital spaces. Using a conceptual theoretical library research method, this study shows that communication theology transcends the technical limitations of conventional communication science by positioning religious messages as communicative acts imbued with theological meaning, spiritual experience, and relationality. This framework allows the analysis of religious messages to include an assessment of faith integrity, ethical theological responsibility, and the transformative impact of digital communication on communities of believers. Communication theology thus offers a balance between digital technological sophistication and the depth of faith substance so that religious communication remains relevant and capable of fostering authentic communion.   Abstrak Perkembangan era digital dalam dua dekade terakhir menuntut pembacaan ulang terhadap cara pesan religius diproduksi, disebarkan, dan dimaknai oleh masyarakat modern. Pergeseran ini mendorong transisi dari model transmisi informasi yang bersifat linier dan teknis menuju praktik persekutuan iman yang lebih relasional. Artikel ini mengkaji teologi komunikasi sebagai kerangka analisis untuk memahami kompleksitas pesan religius di ruang digital yang bersifat algoritmis dan terbuka. Melalui metode kajian pustaka konseptual teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa teologi komunikasi mampu melampaui keterbatasan teknis ilmu komunikasi konvensional dengan menempatkan pesan religius sebagai tindakan komunikatif yang sarat makna teologis, pengalaman spiritual, dan relasi. Kerangka ini memungkinkan analisis pesan religius mencakup penilaian terhadap integritas iman, tanggung jawab etis teologis, serta dampak transformatif komunikasi digital terhadap komunitas orang percaya. Dengan demikian, teologi komunikasi menawarkan keseimbangan antara kecanggihan teknologi digital dan kedalaman substansi iman sehingga komunikasi religius tetap relevan dan mampu menghadirkan persekutuan yang autentik.