Alexander Halim Santoso
Bagian Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penilaian Cardiothoracic Ratio melalui Pemeriksaan Radiologi untuk Identifikasi Dini Kardiomegali pada Populasi Dewasa di Kelurahan Semanan Andria Priyana; Alexander Halim Santoso
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): September
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i3.805

Abstract

Pemeriksaan Cardiothoracic Ratio (CTR) melalui foto toraks merupakan salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk membantu deteksi dini pembesaran jantung atau kardiomegali. Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi nilai CTR pada masyarakat serta mengidentifikasi kemungkinan adanya kardiomegali berdasarkan pemeriksaan radiologi toraks posisi posteroanterior (PA). Evaluasi dilakukan menggunakan analisis deskriptif terhadap hasil pemeriksaan radiologi dan pelaksanaan kegiatan skrining kesehatan masyarakat. Sebanyak 155 responden mengikuti pemeriksaan dengan rerata usia 46,49 ± 10,29 tahun dan rentang usia 19–80 tahun. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 109 orang (70,3%), sedangkan laki-laki sebanyak 46 orang (29,7%). Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar responden memiliki nilai CTR dalam kategori normal, sementara kardiomegali ditemukan pada 2 responden (1,3%). Pada kelompok laki-laki ditemukan 1 kasus kardiomegali dan pada kelompok perempuan juga ditemukan 1 kasus kardiomegali. Penggunaan foto toraks posisi PA memberikan hasil pengukuran ukuran jantung yang lebih akurat karena dapat meminimalkan pembesaran bayangan jantung semu dibandingkan posisi AP. Nilai CTR >50% digunakan sebagai indikator kemungkinan kardiomegali. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemeriksaan CTR melalui foto toraks dapat menjadi metode skrining awal yang sederhana, efektif, dan cukup akurat dalam membantu deteksi dini gangguan kardiovaskular di masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung upaya promotif dan preventif melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan jantung secara berkala sehingga penanganan dan tindak lanjut medis dapat dilakukan lebih dini.
CKG Goes to Campus: Skrining Gula Darah Puasa sebagai Upaya Deteksi Dini Diabetes Melitus pada Civitas Akademika Universitas Tarumanagara Susy Olivia Lontoh; Alexander Halim Santoso; Fiona Valencia Setiawan
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): September
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i3.852

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan sering kali tidak terdiagnosis pada tahap awal karena berlangsung tanpa gejala yang khas. Deteksi dini melalui pemeriksaan gula darah puasa berperan penting dalam mengidentifikasi gangguan regulasi glukosa sebelum berkembang menjadi komplikasi kronis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melaksanakan skrining gula darah puasa pada civitas akademika Universitas Tarumanagara melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Goes to Campus sebagai upaya deteksi dini diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang meliputi tahap perencanaan, pemeriksaan gula darah puasa menggunakan metode point-of-care testing (POCT), evaluasi hasil pemeriksaan, serta tindak lanjut bagi peserta dengan hasil di luar nilai rujukan. Sebanyak 606 peserta mengikuti kegiatan skrining dengan rerata usia 29,55 ± 14,43 tahun. Rerata kadar gula darah puasa peserta adalah 97,98 ± 27,21 mg/dL. Sebagian besar peserta memiliki kadar gula darah puasa normal (72,1%), sedangkan 19,6% termasuk kategori prediabetes dan 8,3% mengarah pada diabetes melitus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lebih dari seperempat peserta telah mengalami gangguan regulasi glukosa meskipun sebagian besar berada pada usia produktif. Pelaksanaan skrining berbasis kampus terbukti efektif dalam mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami diabetes melitus serta memperluas akses terhadap deteksi dini gangguan metabolisme glukosa. Program ini juga menghasilkan data epidemiologi awal yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan program kesehatan kampus berbasis promotif dan preventif serta mendorong tindak lanjut pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan bagi peserta dengan hasil abnormal.